Kompas.com - 01/06/2013, 16:06 WIB
|
EditorFarid Assifa

MAGELANG, KOMPAS.com — Setiati Nur Chasanah (16), siswa kelas IX SMP Negeri 1 Kota Magelang tidak menyangka akan meraih peringkat ke-8 untuk nilai rata-rata hasil ujian nasional (UN) SMP sederajat 2012/1013 tingkat nasional. Betapa tidak, ia mengaku sempat putus asa dan menangis saat mengerjakan soal-soal UN beberapa waktu lalu.

"Saya sempat menangis waktu mengerjakan soal. Karena hampir setiap mata pelajaran ada soal yang tidak bisa saya kerjakan. Tapi saya berusaha dan bertawakal," ungkap Setiati saat ditemui Kompas.com di sekolahnya, Sabtu (1/6/2013).

Setiati mengatakan, dari empat mata pelajaran yang di-UN-kan, soal Bahasa Indonesia adalah yang menurutnya paling sulit. Sebab, menurutnya, terlalu banyak soal bacaan yang panjang-panjang. Belum lagi pilihan jawaban yang hampir sama pula.

Adapun nilai hasil UN milik Setiati antara lain untuk mata pelajaran (Mapel) Bahasa Indonesia mendapat 9,60, Bahasa Inggris 10, Matematika 9,75, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) 10. Adapun rata-rata nilai UN mencapai 9,84. SMP Negeri 1 Kota Magelang sendiri memperoleh peringkat pertama tingkat nasional untuk nilai rata-rata hasil UN SMP sederajat 2012/2013, yang mencapai 9,14.

Setiati menceritakan, pertama kali mengetahui bahwa dirinya masuk 10 besar nilai rata-rata UN SMP tingkat nasional justru dari teman-temanya melalui SMS, Jumat (31/5/2013) malam. Teman-teman Setiati rupanya telah mengetahui informasi tersebut dari media massa. Pengumuman hasil UN sendiri diumumkan serentak pada hari ini, Sabtu (1/6/2013) sore.

"Banyak yang SMS ke nomor saya tentang kabar tersebut. Awalnya saya tidak percaya, kemudian saya dan keluarga mencari kebenaran di televisi dan internet, ternyata benar ada nama saya," ujarnya tersipu malu.

Diungkapkan putri pasangan dari Romadhon dan Suhartini ini, meski tidak peringkat pertama, tetapi baginya pencapaian ini adalah kebanggaan tersendiri, apalagi bisa mengharumkan nama sekolah dan tentu kedua orangtuanya. Gadis yang bercita-cita menjadi dokter itu mengaku tidak mempunyai strategi khusus untuk menghadapi UN.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Tidak ada persiapan khusus, biasa saja, kebetulan disekolah ada pendalaman materi pada jam ke-0, kemudian saya juga ikut les di luar sekolah. Di rumah tinggal baca-baca lagi saja," ujar anak pertama dari tiga bersaudara itu.

Menurut Sri Endah Cahyani, Wakil Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Kota Magelang, Setiati memang dikenal sebagai anak yang pendiam, tetapi tekun belajar. Setiap tes semester maupun tes kompetisi tiap bulan ia selalu memperoleh nilai bagus.

"Anaknya memang pendiam dibanding teman-temannya, kegiatan nonakademis maupun ekstrakurikuler ia tidak terlalu menonjol," ungkap Sri.

Sementara itu, Suhartini, ibunda Setiati, mengungkapkan, dalam kesehariannya di rumah, putrinya itu memang cenderung pendiam. Ia lebih suka menghabiskan waktu di rumah bersama kedua adik-adiknya atau membaca buku kesukaannya.

Suhartini juga mengaku tidak pernah memaksa Setiati untuk belajar. Namun, latar belakang suami yang merupakan anggota Kepolisian Resor (Polres) Magelang Kota, membuat anak-anaknya ikut terbiasa displin dan bisa mengatur waktu dengan baik.

"Setiati itu anaknya pendiam, tidak suka neko-neko, soal belajar kami sebagai orangtua tidak pernah memaksa," ujarnya.

Seusai lulus dari dari SMP Negeri 1 Kota Magelang, Setiati berencana ingin melanjutkan studi ke SMA Negeri 1 Kota Magelang yang juga merupakan sekolah unggulan di kota ini.



25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X