Merancang Rumah Adat Tahan Gempa

Kompas.com - 01/06/2013, 03:57 WIB
Editor

JAKARTA, KOMPAS - Rumah adat idealnya dirancang untuk tahan gempa. Hal itu dapat dilakukan dengan memperhitungkan struktur rumah, material bangunan, serta tingkat kekakuan sambungan rumah adat.

Langkah ini sebagai antisipasi karena Indonesia dilalui jalur cincin api, yakni gugusan gunung berapi di kawasan Pasifik. Jalur tersebut mengakibatkan wilayah yang dilewatinya rawan letusan vulkanik dan gempa.

Hal ini mengemuka dalam ajang wicara yang diselenggarakan Universitas Kristen Indonesia (UKI) bertema ”Pelestarian Arsitektur Tradisional dan Seni Budaya Sumatera Utara”, Jumat (31/5), di Jakarta.

Menurut Kepala Pusat Penelitian Gempa Fakultas Teknik UKI Pinondang Simanjuntak, struktur rancangan pada rumah adat seharusnya berbentuk simetris dan memiliki tingkat kekakuan yang cukup sehingga sambungannya tidak longgar.

”Dengan struktur simetris, rumah adat tidak akan terpelintir ketika terjadi gempa,” katanya.

Beban material yang digunakan diusahakan berbobot ringan seperti kayu. Dengan demikian, rumah adat tidak mudah roboh.

Simanjuntak menuturkan, pada rumah tradisional digunakan sambungan pasak yang berfungsi mirip sendi plastis. Sendi plastis adalah sambungan balok ke kolom yang didesain kaku sehingga saat terjadi momen tumpuan sangat besar, semua tulang tarik pada balok rusak. ”Desain itu dapat menyerap energi dari gempa sehingga kerusakan minimal,” ujarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Dekan Fakultas Teknik UKI James Rilatupa, bangunan berbahan kayu seperti rumah adat tidak luput dari serangan organisme seperti kumbang dan rayap.

”Serangan kumbang dipengaruhi tingkat kelembaban yang tinggi dari kayu. Adapun rayap menjadi hama di perumahan karena sumber makanan di alam makin berkurang,” katanya.

James menuturkan, minimnya kayu berkualitas tinggi dan awet menyebabkan rumah adat rentan terserang organisme. ”Saat ini di Indonesia hanya ada pohon berusia maksimal 20 tahun seperti akasia dan jati,” ujarnya.

James menyarankan agar rumah awet, perlu menggunakan kayu rekayasa yang lebih ramah lingkungan dan tidak mahal.

”Cara ini mengombinasikan serbuk kayu yang dicampur dengan berbagai bahan, seperti semen, plastik, dan gipsum. Dengan demikian, tidak ada limbah dalam penggunaannya,” James memaparkan. (K06)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.