Dituduh Membunuh, Anak Polisi Dianiaya Polisi

Kompas.com - 28/05/2013, 19:58 WIB
|
EditorFarid Assifa

MAKASSAR, KOMPAS.com - Dituduh membunuh, anak seorang anggota Polsekta Bontoala, Nur Ali Akbar AS (17) yang juga pelajar SMA dianiaya anggota Resmob Polrestabes Makassar. Kasus penganiayaan terhadap warga Aspol Tallo Lama Blok A No 3, Kelurahan/Kecamatan Tallo, Kota Makassar ini kemudian dilaporkan ibunda Ali, Supiati (40) ke Polda Sulselbar.

Supiati menjelaskan, saat itu Ali sedang menginap di rumah temannya, Putra di Jalan Dakwa. Anggota Resmob Polrestabes Makassar yang dipimpin Aiptu Yansen (50) melakukan penggerebekan dan mencari tersangka pembunuhan atas nama Iwan. Kebetulan pada malam itu, Iwan berada di rumah putra.

Saat mengetahui ada polisi, Iwan langsung kabur. Sedangkan empat orang yang berada di rumah itu diamankan polisi. Mereka adalah Aco (20), Putra (20), Ako (18), termasuk anak Supiati, Nur Ali Akbar (17).

Lanjut Supiati, pemilik rumah yang merupakan orangtua Putra, H Arma sempat meminta surat penangkapan. Namun polisi tidak memperlihatkan dengan alasan keempat anak itu hanya dijadikan saksi. Keempatnya kemudian dibawa ke posko Resmob Polrestabes Makassar di Jalan Sungai Saddang. Di posko itu, anaknya disiksa hingga gigi sebelah kiri rontok, seluruh tubuh memar dan lebam, serta pendengarannya terganggu akibat pukulan polisi.

"Setiap ditanya, polisi pukul anak saya. Bahkan dipopor pakai 'pantat' senjata. Selain disiksa di posko Resmob, anak saya juga dibawa ke Daya kemudian disiksa di sana. Setelah disiksa, keesokan harinya anak saya baru dibawa ke Polsekta Bontoala. Akibat penyiksaan itu, beberapa gigi rontok, pendengarannya terganggu dan luka-luka sekujur tubuhnya," paparnya.

Supiati membeberkan, dari pengakuan anaknya, ia tidak terlibat dalam pembunuhan. Memang Ali berada di sekitar lokasi kejadian.

"Polisi mencari Iwan, tersangka pembunuhan, kenapa semua anak yang nginap disitu ditangkap. Selain keempat anak di Jalan Dakwa ditangkap, tiga orang lainnya yakni Alim (20), Wawan (20), Sahar (20) di Aspol Tallo juga ditangkap," beber Supiati.

Supati pun telah melaporkan kasus penganiayaan anaknya oleh anggota Resmob Polrestabes Makassar yang dipimpin Ajun Inspektur Satu (Aiptu) Yansen ke Polda Sulselbar dengan nomor laporan: LPB/256/V/2013/SPKT dan STPL/151/V/2013/Subbag Yandu tertanggal 27 Mei 2013.

Kasus penganiayaan yang dilakukan polisi ini juga didampingi oleh Lembaga Komisi Aparatur Negara Republik Indonesia (Komnas Waspan) dan Bimbingan Hukum (Binkum) Polda Sulselbar. Menurut Sekretaris Komnas Waspan, Nasution, pihaknya telah melaporkan kasus penganiayaan tersebut ke Kapolda Sulselbar Inspektur Jenderal (Irjen) Polisi Mudji Waluyo.

Selain itu, ia juga telah berkirim surat ke Kapolri, Propam Polda Sulselbar, Kapolrestabes Makassar, Kompolnas di Jakarta, Ketua Pengadilan Negeri Makassar, Kejari Makassar dan Komnas Waspan di Jakarta.

"Tindakan yang dilakukan anggota Resmob Polrestabes Makassar mencerminkan polisi yang tidak profesional. Penanganan kasusnya sudah cacat hukum. Kalau baru tuduhan, harus dipanggil dulu. Bukan langsung menangkap dan menganiaya orang," beber Nasution.

Menurutnya, Ali ditangkap di Jalan Dakwah pada 21 April lalu. Selain disiksa, Ali juga dipaksa mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya. Anehnya lagi, kata dia, mau-maunya Polsekta Bontoala menerima pelimpahan tersangka dalam keadaan bonyok setelah dianiaya.

"Ditambah lagi Kapolsekta Bontoala Ajun Komisaris Polisi (AKP) Nawu Thayeb melarang Supiati memvisum anaknya yang bonyok disiksa polisi," paparnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

16.909 Guru dan Tenaga Kependidikan di DIY Bakal Divaksin Covid-19 Tahap 2

16.909 Guru dan Tenaga Kependidikan di DIY Bakal Divaksin Covid-19 Tahap 2

Regional
DPRD Sumbar Minta BPK Audit Dana Penanganan Covid-19 Rp 49 Miliar

DPRD Sumbar Minta BPK Audit Dana Penanganan Covid-19 Rp 49 Miliar

Regional
Relokasi Korban Longsor Nganjuk Harus Pertimbangkan Aspek Sosial-Budaya

Relokasi Korban Longsor Nganjuk Harus Pertimbangkan Aspek Sosial-Budaya

Regional
BCA Bantah Laporkan Ardi Soal Kasus Salah Transfer Rp 51 Juta: Itu Mantan Karyawan

BCA Bantah Laporkan Ardi Soal Kasus Salah Transfer Rp 51 Juta: Itu Mantan Karyawan

Regional
Asal-usul Tegal, dari Pelaut Portugis hingga Cerita Ki Gede Sebayu

Asal-usul Tegal, dari Pelaut Portugis hingga Cerita Ki Gede Sebayu

Regional
Tradisi Sarapan Para Raja di Keraton Yogyakarta, dari Teh, Susu Cokelat hingga Gudeg

Tradisi Sarapan Para Raja di Keraton Yogyakarta, dari Teh, Susu Cokelat hingga Gudeg

Regional
Hiperaktif, Bocah 9 Tahun Penyandang Disabilitas Diikat ke Pohon dan Dikurung Dalam Rumah

Hiperaktif, Bocah 9 Tahun Penyandang Disabilitas Diikat ke Pohon dan Dikurung Dalam Rumah

Regional
Asal-usul Kue Batang Buruk, Saksi Perjalanan Cinta Sang Putri Kerajaan Bintan

Asal-usul Kue Batang Buruk, Saksi Perjalanan Cinta Sang Putri Kerajaan Bintan

Regional
Pesona Mata Biru dari Siompu

Pesona Mata Biru dari Siompu

Regional
Terduga Pembunuh Pemilik Toko di Blitar Terekam CCTV, Kenakan Hoodie dan Masker

Terduga Pembunuh Pemilik Toko di Blitar Terekam CCTV, Kenakan Hoodie dan Masker

Regional
Gunung Merapi Kembali Keluarkan Awan Panas Guguran, Meluncur hingga 1.000 Meter

Gunung Merapi Kembali Keluarkan Awan Panas Guguran, Meluncur hingga 1.000 Meter

Regional
Imbas Ardi Dipenjara karena Pakai Uang Salah Transfer, Anaknya Tak Bisa Dibawa Berobat

Imbas Ardi Dipenjara karena Pakai Uang Salah Transfer, Anaknya Tak Bisa Dibawa Berobat

Regional
Teriakan “Adikku… Adikku…” Sambut Kedatangan Jenazah Korban Penembakan di Kafe RM Cengkareng

Teriakan “Adikku… Adikku…” Sambut Kedatangan Jenazah Korban Penembakan di Kafe RM Cengkareng

Regional
Bayi 6 Bulan Tinggal Bersama Ibunya di Tahanan, Karutan Lhoksukon Dihubungi Sejumlah Politikus

Bayi 6 Bulan Tinggal Bersama Ibunya di Tahanan, Karutan Lhoksukon Dihubungi Sejumlah Politikus

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 27 Februari 2021

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 27 Februari 2021

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X