Kompas.com - 28/05/2013, 15:46 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

PALU, KOMPAS.com - Dua bangunan Sekolah Dasar Negeri Inpres 1 dan Sekolah Dasar Negeri Inpres 2, di Kelurahan Lasoani, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (28/5/2013) kembali disegel warga yang mengaku sebagai pemilik lahan.

Penyegelan ini tentu saja mengganggu aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut. Untung para guru tidak kehilangan akal, mereka mengganti waktu belajar, dengan mendirikan tenda di halaman sekolah.  

Warga menyegel sekolah dengan cara menutup pintu masuk sekolah,   dengan memasang palang di pintu gerbang sekolah, dan pintu kantor serta ruang kelas. Akibatnya, ratusan murid yang hendak mengikuti aktivitas belajar terhambat.

Para guru tak dapat berbuat apa-apa. Selama aksi penyegelan dilakukan, serta pertemuan pihak pemilik tanah dengan Dinas pendidikan Kota Palu, para siswa hanya bermain di halaman maupun di dalam kelas yang tidak disegel.

Lalu sebagian lain membangun tenda di luar. Para murid ini membangun tiga buah tenda, untuk menyindir Pemerintah Kota setempat.

Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota, Ardiansyah Lamasitudju, saat ini, belum memberikan keterangan apapun terkait masalah ini. 

Alfian warga yang mengaku pemilik lahan seluas sekitar 4.000 meter persegi, mengatakan belum menerima ganti kerugian tanah dari Pemerintah Kota Palu, selama lokasi tersebut dijadikan sekolah lebih 10 tahun lalu.

Status tanah tempat sekolah dibangun, dahulunya hanya dipinjamkan, namun belum ada penyerahan secara resmi pada pemerintah terkait. Pihaknya memiliki bukti-bukti akurat, dengan masih adanya saks-saksi hidup soal peminjaman lahan.

Menurut Zulkiflin, Guru SD Inpres 1 Lasoani, Palu Timur, pihak pertanahan Pemerintah Kota Palu, sudah mengukur lahan, namun sampai kini ganti kerugian atas tanah tersebut belum dibayarkan. Padahal, pihak keluarga sudah dijanjikan akan dibayar pada tanggal 19 Mei lalu.

"Saya dengar dijanjikan mau dibayar. Tapi ini diblokir ulang. Berarti belum dibayarkan ganti ruginya, makanya mereka blokir ulang," kata Zulkiflin.  

Penyegelan ini, menurut pemilik tanah, akan terus dilakukan sampai pemerintah Kota Palu, membayar tanah mereka, sebanyak 1.000 meter persegi dari 4.000 meter per segi dari tanah hibah yang diserahkan oleh keluarga mereka.  

Sementara para murid, usai membangun tenda kembali berteduh di selasar ruang kelas mereka yang disegel. Menurut para guru lain, aksi ini dilakukan supaya dilihat oleh Pemerintah Kota Palu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.