Kompas.com - 24/05/2013, 18:46 WIB
Penulis Luki Aulia
|
EditorAgus Mulyadi

JAKARTA, KOMPAS.com — Koalisi Pendidikan menemukan bukti kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional (UN) 2013 tingkat SMA/SMK/MA beberapa waktu lalu.

Bukti kecurangan, antara lain berupa satu lembar kunci jawaban. Bukti itu diperoleh dari seorang siswa, sebut saja Joko, dari sekolah swasta di Jakarta yakni SMK Widuri, yang mengadu kepada gurunya.

Temuan ini dipublikasikan Koalisi Pendidikan di kantor Indonesia Corruption Watch (ICW) tepat pada hari pengumuman hasil UN, Sabtu (24/5/2013). "Kami juga punya rekaman pengakuan guru-guru yang membenarkan kasus Joko ini," kata Siti Juliantari Rachman dari ICW.

Menurut Juliantari, penerapan UN memicu siswa, kepala sekolah, dan guru bertindak curang. Bagi sebagian sekolah, UN memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dari kemampuan mereka. Di lain pihak, ada persyaratan sekolah dan siswa harus lulus UN. Jika tidak lulus, nama daerah, sekolah, dan siswa dianggap akan rusak di mata masyarakat.

"Ini yang memicu kecurangan massal, terstruktur, dan sistemik," kata Juliantari.

Bukti kecurangan sistemik itu bisa dilihat dari kunci jawaban yang dibuat rapi untuk 20 jenis soal. Ini dinilai ICW tidak mungkin dilakukan oleh guru di sekolah, menjelang satu hari soal sampai di sekolah. Ini diduga dilakukan oknum lain yang mengetahui distribusi soal. Menjadi sistemik juga karena pelaku kecurangannya justru pejabat-pejabat sekolah.

Semua sekolah ingin siswanya lulus UN, tetapi tidak semua sekolah memenuhi standar nasional pendidikan. Padahal UN menggunakan soal ujian dengan standar nasional. Tidak heran jika sekolah bersedia melakukan berbagai cara untuk meluluskan siswanya. Salah satunya dengan memberikan kunci jawaban UN.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pengakuan siswa

Dalam kasus Joko ini, kepala sekolah dan wakil kepala sekolah yang justru membagikan kunci jawaban kepada siswa-siswanya. Ini diceritakan oleh Joko dan seorang teman sekolahnya kepada Koalisi Pendidikan.

Menurut Joko kepada wartawan di ICW, pada hari pertama UN yakni 15 April malam beredar pesan singkat (SMS) di kalangan siswa. Isinya, meminta mereka datang ke sekolah pukul 06.00 WIB, dan berkumpul di salah satu ruangan lantai satu sekolah mereka. SMS diduga berasal dari salah satu pejabat sekolah.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.