Kompas.com - 19/05/2013, 19:38 WIB
|
EditorFarid Assifa

UNGARAN, KOMPAS.com - Dua jalur pendakian gunung Merbabu dari Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang hingga Minggu (19/5/2013) siang tetap dibuka. Padahal letak Gunung Merbabu dengan Gunung Merapi saling berdekatan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sebelumnya sempat merilis data adanya embusan asap berwarna putih kehitaman dari puncak Gunung Merapi pada Sabtu (18/5) sekitar pukul 09.20 WIB.

"Sampai Sabtu malam masih ada pendaki yang naik gunung Merbabu. Mereka naik melalui sejumlah jalur seperti Cuntel dan Batur, Kecamatan Getasan. Kami masih izinkan, asalkan mereka tetap mematuhi tata tertib pendakian serta alat komunikasi," kata koordinator SAR Kecamatan Getasan, Agus Surolawe, Minggu (19/5/2013).

Sementara itu, secara terpisah, Kepala PVMBG Surono mengatakan, asap yang yang keluar dari puncak Merapi disebabkan saat ini gunng tersebut tanpa sumbat atau kubah lava sehingga dalam kondisi terbuka. Akibatnya, ketika curah hujan tinggi akan terbentuk uap yang semakin meningkatkan tekanan gas dan volume material vulkanik di sekitar keluarnya uap dan gas tersebut.

"Saya sampaikan kepada teman-teman wartawan, LSM sekitar Merapi dan bos-bos pejabat bencana. Merapi saat ini akan berbeda sekali dibanding sebelum letusan 2010. Dulu ending Merapi dengan terbentuknya kubah lava sebagai sumbat, seperti tancep kayon dalam cerita pewayangan," beber Surono melalui sambungan telepon.

"Akan tetapi saat ini Merapi tanpa kubah lava, terbuka, dengan curah hujan yang tinggi akan terbentuk uap yang semakin meningkat tekanan dan volumenya. Dengan gas vulkanik yang terus terbentuk, maka tekanan dalam tubuh Merapi menjadi besar. Karena tidak ada sumbat, maka terlepaslah gas vulkanik, uap dan matrial di sekitar lubang keluarnya uap dan gas tersebut," beber Surono.

Kondisi Merapi saat ini, lanjut Surono, memiliki dampak positif sekaligus negatif. Dampak positifnya, lantaran tidak ada tekanan, maka material vulkanik langsung terlepas sehingga tidak sempat terakumulasi menjadi besar. Namun dampak negatifnya adalah embusan gas atau uap serta material vulkanik tidak bisa diprediksi sehingga membahayakan bagi pendaki.

"Ada baiknya, tidak ada tekanan terus terlepas, tidak terakumulasi sehingga menjadi besar. Ada jeleknya, embusan tersebut mungkin bisa terjadi kapan saja, tanpa tanda kegempaan yang jelas atau signifikan sehingga membahayakan pendaki. Seperti saat ini embusan materil vulkanik yang panasnya jelas lebih dari seratus derajat celcius bisa membuat kaget atau panik atau risiko yang lebih besar, yakni terkena eembusan material vulkanik Merapi," jelas Surono.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X