BBPOM Semarang Gerebek Pabrik Kosmetika Ilegal

Kompas.com - 16/05/2013, 16:47 WIB
|
EditorFarid Assifa

SEMARANG, KOMPAS.com - Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) di Semarang berhasil menggerebek sebuah rumah yang membuat berbagai kosmetika ilegal dan diduga mengandung bahan kimia berbahaya.

Petugas menyita 160 karton kosmetik ilegal siap edar, 29 jeriken bahan kimia masing-masing 25 liter, dua jeriken bahan kimia masing-masing 1.000 liter dan tujuh karung wadah kosong. Total keseluruhan barang sekitar dua truk.  

Penyitaan tersebut yakni pada kosmetik yang sudah jadi dan dikemas, bahan setengah jadi, bahan kimia pembuat kosmetika serta wadah untuk sejumlah kosmetika tersebut. Penggerebekan sendiri telah dilakukan pada Rabu (15/5/2013) malam dari hasil laporan masyarakat.

Kepala BBPOM Semarang Zulaimah mengatakan, rumah yang digerebek beralamat di kawasan Permata Hijau Blok 8 Nomor 57 Purwokerto atas nama CV Derma Skin Estetika.

"Bentuk rumah cukup besar dan digunakan sebagai rumah produksi. Jumlah karyawan saat dilakukan penggerebekan sebanyak 12 orang tapi keseluruhan sekitar 40 orang, termasuk marketing," katanya saat ditemui, Kamis (16/5/2013).  

Ia mengatakan produk kosmetika seperti krim pelembab, krim malam dan krim pemutih tidak memiliki izin edar, tidak terdaftar serta mengandung sejumlah bahan kimia berbahaya. Bahan kimia berbahaya di antaranya mengandung hidroqinon, asam retinoat dan resorsinol yang bisa berakibat iritasi pada kulit.  

Menurutnya, bahan-bahan kimia itu tergolong obat keras yang hanya bisa digunakan di bawah pengawasan dokter. "Inisial pemilik produksi kosmetika ilegal ini SA, dan masih kami mintai keterangan karena diduga sudah banyak barang yang beredar luas di pasaran," ujarnya.  

Produk tersebut diketahui tidak berlabel atau bermerk dan banyak dipasarkan di klinik-klinik kecantikan serta salon-salon. Wilayah peredarannya pun cukup luas, yakni Jabodetabek, Bandung, Bali dan juga di wilayah Semarang.

"Omzet tiap bulan diketahui sekitar Rp 1 miliar, dimungkinkan produk ini nanti bisa dilabeli sendiri oleh masing-masing klinik kecantikan atau salon, makanya masih terus kami telusuri," tandasnya.  

Ia juga mengaku mewaspadai peredaran kosmetika ilegal ini secara online atau via internet. Sebab itu, ia meminta masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih produk agar tidak mendapatkan produk yang justru merugikan. Selain itu, masyarakat yang curiga atau menemukan peredaran barang-barang tersebut diminta untuk melaporkan pada BBPOM.     

Diduga pembuatan kosmetika ilegal ini sudah berjalan cukup lama. Berdasarkan informasi, sudah sekitar satu tahun dijalankan, namun Zulaimah mengaku belum bisa memastikan karena masih dalam penyelidikan. Pemilik produksi tersebut bisa dijerat dengan UU No 36 tahun 2009 tentang kesehatan, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun dan atau denda Rp 1,5 miliar.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dinkes Kota Padang Targetkan 700.000 Warga Menerima Vaksin Covid-19

Dinkes Kota Padang Targetkan 700.000 Warga Menerima Vaksin Covid-19

Regional
Gubernur Kalbar Geram karena Lahan Konsesi Sengaja Dibakar: Mereka Pikir Saya Takut

Gubernur Kalbar Geram karena Lahan Konsesi Sengaja Dibakar: Mereka Pikir Saya Takut

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 1 Maret 2021

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 1 Maret 2021

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 1 Maret 2021

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 1 Maret 2021

Regional
Diduga Korupsi Dana Rehabilitasi SD, Eks Pejabat Disdik Bantaeng Ditahan

Diduga Korupsi Dana Rehabilitasi SD, Eks Pejabat Disdik Bantaeng Ditahan

Regional
Tambak Dipasena Dibangun Ulang, Bupati Tulang Bawang Berikan Apresiasi kepada Jokowi

Tambak Dipasena Dibangun Ulang, Bupati Tulang Bawang Berikan Apresiasi kepada Jokowi

Regional
Gubernur: Agar Orang Mau Berkunjung ke Bali, Pandemi Harus Dikendalikan

Gubernur: Agar Orang Mau Berkunjung ke Bali, Pandemi Harus Dikendalikan

Regional
Bali Siapkan Zona Hijau Covid-19 untuk Wisatawan Asing dan Domestik

Bali Siapkan Zona Hijau Covid-19 untuk Wisatawan Asing dan Domestik

Regional
Terduga Pembunuh Pemilik Toko di Blitar Disebut Paham Lokasi, Polisi: Sebagian CCTV Ditutup Lakban

Terduga Pembunuh Pemilik Toko di Blitar Disebut Paham Lokasi, Polisi: Sebagian CCTV Ditutup Lakban

Regional
2.500 Anggota Polda Bali Terima Vaksin Covid-19, Kapolda: Tetap Patuhi Protokol Kesehatan

2.500 Anggota Polda Bali Terima Vaksin Covid-19, Kapolda: Tetap Patuhi Protokol Kesehatan

Regional
Wacana KLB Digelar di Bali, Demokrat Bali: Itu Ilegal, Kami Menolak Tegas

Wacana KLB Digelar di Bali, Demokrat Bali: Itu Ilegal, Kami Menolak Tegas

Regional
Pemilik Toko di Blitar Tewas akibat Hantaman Benda Tumpul di Kepala

Pemilik Toko di Blitar Tewas akibat Hantaman Benda Tumpul di Kepala

Regional
Jokowi Berharap Setelah Vaksinasi Ekonomi dan Pariwisata di DIY Tumbuh

Jokowi Berharap Setelah Vaksinasi Ekonomi dan Pariwisata di DIY Tumbuh

Regional
Jokowi Tinjau Vaksinasi Massal di Yogyakarta, Menkes Klaim Pelaksanaannya Lebih Rapi

Jokowi Tinjau Vaksinasi Massal di Yogyakarta, Menkes Klaim Pelaksanaannya Lebih Rapi

Regional
Fakta Perempuan Muda Tewas di Kamar Hotel, Tergeletak di Lantai dan Alami Luka di Kepala

Fakta Perempuan Muda Tewas di Kamar Hotel, Tergeletak di Lantai dan Alami Luka di Kepala

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X