Kompas.com - 16/05/2013, 08:02 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

GORONTALO, KOMPAS.com - Kehidupan Suku Polahi di pedalaman Gunung Boliyohuto, Gorontalo sedikit berubah sejak kehadiran para petambang emas liar yang setiap saat melewati lokasi mereka. Para petambang ini memberi andil bagi Polahi untuk mengenal nilai tukar uang yang dulunya tidak mereka pahami sama sekali.

"Mereka (petambang) sering mampir istirahat di rumah kami sebelum melanjutkan perjalan ke lokasi tambang," ujar istri Babuta, Lanio, seorang perempuan Suku Polahi, minggu lalu.

Para petambang ini pula yang mengenalkan pekerjaan baru kepada suku Polahi. Lokasi penambangan emas liar di kawasan hutan yang memerlukan waktu jalan kaki kurang lebih 10 jam itu, memerlukan tenaga angkut guna mengangkut keperluan para penambang. Mereka lalu mengajarkan kepada para Polahi untuk menjadi buruh angkut.

"Para Polahi yang menjadi buruh angkut dipanggil dengan sebutan 'kijang' karena jalan mereka yang sangat cepat seperti hewan Kijang dan nyaris tidak mengenal lelah," ujar Kepala Dusun Pilomohuta, Desa Bina Jaya, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo.

Para Kijang ini dibayar para petambang untuk mengangkut barang berupa beras dan kebutuhan lainnya dari pasar di desa ke lokasi tambang yang jaraknya jauh dan melewati medan berat, serta harus menyeberangi tak kurang dari tujuh sungai besar.

Bagi orang normal, untuk mencapai lokasi tambang tanpa membawa beban lebih, memerlukan waktu jalan kaki sekitar 10 hingga 12 jam. Tetapi bagi suku Polahi mereka hanya perlu waktu sekitar lima jam dengan beban yang dibawa sekitar 30 kilogram hingga 50 kilogram. "Kami dibayar sesuai dengan berat bawaan, antara Rp 5.000 sampai Rp 10.000 per kilogram," jelas Lanio.

Lanio beserta perempuan suku Polahi lainnya yang biasanya menjadi Kijang. Demikain pula anak-anak suku Polahi yang masih berusia belasan tahun sudah menjadi Kijang dengan gesitnya dan tanpa mengenal lelah. Bahkan kadangkala menurut mereka, dalam sehari mereka bisa dua kali bolak-balik mengangkut bawaan pesanan para petambang. "Uang itu gunakan untuk membeli kebutuhan hidup dan beli pakaian," tambah Lanio.

Kehadiran para petambang emas liar di satu sisi menjadi ancaman bagi suku Polahi yang masih memegang kepercayaan bahwa hutan merupakan rumah mereka. Tapi di sisi lain, kehadiran para petambang ini paling tidak mengenalkan kepada suku Polahi nilai tukar uang yang berlaku di masyarakat umum.

Dengan uang yang mereka peroleh, membuat suku Polahi bisa mengenal makanan selain yang disediakan hutan. Dengan uang itu juga mereka bisa beli pakaian menggantikan kulit kayu yang sebelumnya mereka pakai sebagai cawat. Bahkan dengan uang itu mereka kini bisa punya handphone untuk berkomunikasi dengan dunia luar.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.