Gunakan Ponsel, Suku Polahi Lawan Keterasingan - Kompas.com

Gunakan Ponsel, Suku Polahi Lawan Keterasingan

Kompas.com - 14/05/2013, 08:34 WIB

GORONTALO, KOMPAS.com - Hidup di pedalaman hutan pengunungan Boliyuhuto, Gorontalo membuat suku Polahi terisolasi dari dunia luar. Demi mencapai salah satu keluarga terdekat Polahi di Hutan Humohulo, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo saja, mereka memerlukan waktu sedikitnya delapan jam berjalan kaki melewati medan yang terbilang berat.

"Mereka memang lebih memilih hidup di dalam hutan daripada tinggal di kampung bersama warga lainnya. Padahal sudah disediakan pemukiman khusus buat mereka," kata Kepala Dusun Pilomohuta, Desa Bina Jaya, Kecamatan Paguyaman, Udin Mole, Minggu lalu.

Suku Polahi merupakan sekelompok manusia yang hidup di pedalaman hutan Gorontalo dengan segala keterbatasannya. Mereka belum mengenal agama dan pendidikan, dan hidup secara semi nomaden. Beberapa tradisi primitif bahkan masih terus mereka pertahankan. "Dulu Polahi tidak mau sama sekali berinteraksi dengan manusia lainnya. Jika bertemu mereka lari menghindar. Mereka turun ke kampung hanya untuk mencari garam," ujar Fotografer Rosyid Asrar, yang meminati kehidupan Polahi.

Namun sekarang suku Polahi sudah mau berinteraksi dengan manusia lainnya. Mereka secara berkala turun ke kampung untuk pergi ke pasar menjual hasil ladang mereka. "Polahi sekarang sudah kenal uang, setelah menjual hasil kebun mereka lalu belanja kebutuhan hidupnya. Bahkan sekarang beberapa anggota Polahi sudah punya handphone," jelas Udin.

Hal itu terlihat jelas ketika Kompas.com menyambangi satu keluarga Polahi yang tinggal di dua rumah berbeda di hutan Humohulo. Dua anak dari Kepala Suku Polahi, Babuta dan Laiya sudah memegang handphone dan mahir menggunakan alat komunikasi modern tersebut. "Beli di kampung, dan buat menelepon teman serta mendengarkan lagu kalau malam," kata Babuta dalam bahasa Gorontalo dengan dialek yang khas.

Keberadaan telepon selular di tengah kehidupan mereka di pedalaman hutan itu membuat mereka bisa mengetahui informasi yang terjadi di luar sana. Maka tak heran, kini Babuta, penerus pimpinan keluarga Polahi di hutan Humohulo, punya banyak teman orang kampung.

Bahkan menurut Babuta, dalam waktu dekat dia akan menuju ke Ternate dan Ambon untuk menjual kayu gaharu yang diambilnya di hutan. "Ada yang orang Ternate yang pesan, dia sudah tunggu saya di sana," ujar Babuta.

Di samping ponsel, suku Polahi yang ditemui di hutan Humohulo juga sudah mengenal pakaian. Mereka tidak lagi bertelanjang seperti anggapan sebagian orang selama ini. "Kami sudah lama berpakaian. Beli di pasar dan diberi sama orang lain," ujar Mama Tanio, istri Kepala Suku.

Bahkan, jika ada pengunjung yang datang menyambangi lokasi mereka, tak jarang suku Polahi meminta baju bekas untuk mereka gunakan. Kondisi ini mengindikasikan bahwa keterisolasian suku Polahi bisa diatasi dengan pendekatan yang tepat.

"Mereka ini mau berubah, hanya saja masih bodoh, sehingga susah diberi pengertian. Tapi mereka mendengar apa yang selama ini saya sampaikan," tambah Udin Mole, yang diakui oleh para suku Polahi sebagai satu-satunya wakil pemerintah yang mau datang ke rumah mereka. 


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorGlori K. Wadrianto

    Close Ads X