Kompas.com - 10/05/2013, 10:48 WIB
|
EditorTri Wahono

TASIKMALAYA, KOMPAS.com - Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi Jawa Barat KH Hafidz Usman menilai pemerintah selama ini tidak tegas menangani permasalahan Ahmadiyah di Indonesia. Seharusnya pemerintah berani untuk membedakan ajaran Ahmadiyah dengan ajaran agama lainnya.

"Soalnya kan Ahmadiyah sudah mengakui adanya nabi terakhir selain Nabi Muhammad SAW, sesuai ajaran Islam. Jadi harusnya bisa dipisahkan," terang Hafidz kepada sejumlah wartawan di sela-sela kunjungannya ke wilayah Tasikmalaya, Jumat (10/5/2013).

Menurut Hafidz, dalam mengambil sebuah keputusan, pemerintah pusat dan daerah harus tegas. Misalnya, bisa melalui keputusan Robitualam Islami dalam konferensi dunia Islam untuk mengusulkan pembedaan ajaran Ahmadiyah dengan ajaran lainnya.

"Kalau misalkan pemerintah belum berani untuk mengambil langkah tegas terkait Ahmadiyah, selama itu pula konflik akan terus terjadi," singkat dia.

Diberitakan sebelumnya, dua masjid Ahmadiyah di Kecamatan Salawu dan Singaparna, serta puluhan rumah jemaah Ahmadiyah dirusak sekelompok orang pada Minggu dini hari tadi.

Penyerangan itu seusai ratusan jemaah Ahmadiyah di wilayah itu mengadakan pengajian di Kampung Kutawaringin, Desa Tenjowaringin, Kecamatan Salawu, Sabtu (4/5/2013) sekitar pukul 20.00, dengan penjagaan ketat petugas kepolisian.

Seusai pengajian, pada Minggu dini hari sekitar pukul 02.00, kampung tempat dilaksanakan pengajian yang notabene mayoritas jemaah Ahmadiyah, diserang sekelompok orang. Masjid dan sebanyak 20 rumah warga rusak.

Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Massa penyerang pun bergeser ke wilayah Singaparna dan menyerang sebuah masjid Ahmadiyah dengan sebuah rumah di kompleks masjid.

Malahan, saat merusak masjid di Singaparna, massa sempat membakar gedung masjid dan isinya. Kondisi masjid rusak berat, seperti kaca masjid seluruhnya pecah, dan mimbar, sajadah, dan buku-buku agama sempat dibakar massa.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.