Kompas.com - 09/05/2013, 14:17 WIB
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary

BANDUNG, KOMPAS.com — Pada Rabu (8/5/2013) siang, Ita Rosita (35) dan ketiga anaknya tengah bersantai di rumah kontrakannya di Kampung Batu Rengat, Desa Cigondewah Hilir, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. Tiba-tiba, dari rumah kontrakannya yang berukuran sekitar 5 x 5 meter, Ita mendengar suara letusan senjata api dari luar. Ia dan ketiga anaknya yang masih anak balita kaget. Tembakan senjata api pertama kali terdengar pukul 11.00, mengarah ke rumahnya.

Bukan hanya suara tembakan, ia juga mendengar derap langkah kaki sejumlah orang yang tak dikenalnya. Ita tak tahu apa yang terjadi. Ketakutan pun menyeruak di benaknya. Namun, ia tetap berusaha tenang demi ketiga anak yang dipeluknya.

Saat itu tengah terjadi baku tembak antara Tim Densus 88 dan empat orang yang diduga teroris di Desa Cigondewah. Selama tiga jam, Ita mendengar jelas suara tembakan yang mengenai tembok rumahnya. Namun, ia tak mengetahui bagaimana caranya para terduga teroris itu menembak ke arah rumahnya.

"Namun, tembakannya tidak panjang, hanya sekali-sekali," ujar wanita asli Bekasi itu saat ditemui di rumahnya, Kamis.

Sesekali, Ita berusaha melongok ke luar rumah untuk mengetahui apa yang terjadi. Ia terkejut ketika mendapati pelataran rumahnya dijadikan arena pertempuran senjata api bak film aksi di layar kaca. "Anak saya tidak takut. Cuma, anak saya yang paling kecil terbangun dari tidurnya karena kaget," ujarnya.

Menurut Ita, rumah kontrakannya sangat strategis karena tembok penghalang dengan jalan di sampingnya berhadapan langsung dengan belakang rumah yang ditempati empat orang terduga teroris. Rumahnya berada paling ujung di antara jejeran rumah petak kontrakan.

"Rumah saya dijadikan tempat ngumpet-nya anggota Densus. Mereka nembak dari rumah saya," kisah Ita.

Selama tiga jam itu, Ita memanjatkan doa agar diberi keselamatan. Setelah tiga jam, baku tembak pun berakhir. Ita dan ketiga anaknya langsung diungsikan ke rumah tetangganya sekitar pukul 14.00. 

"Ada empat polisi berpakaian preman yang menggedor pintu. Saya sama tiga anak saya terus diungsikan. Tempatnya dua rumah di belakang rumah saya," katanya.

Namun, saat diungsikan itu, masih terdengar suara tembakan. Pada Rabu malam, Ita akhirnya bisa kembali ke rumahnya setelah dipastikan aman oleh polisi.

" Ya, tidur aja enggak nyenyak, masih waswas," ujar Ita.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.