Mahasiswa Sukabumi Tolak Kenaikan Harga BBM

Kompas.com - 01/05/2013, 21:34 WIB
EditorAgus Mulyadi

UKABUMI, KOMPAS.com — Mahasiswa Sukabumi yang tergabung dalam Forum Aktivis Mahasiswa Sukabumi menolak rencana kenaikan harga BBM karena imbasnya akan besar, khususnya kepada masyarakat miskin.

"Imbas kenaikan harga BBM ini sangat luas, yang juga bisa memicu kenaikan harga kebutuhan pokok lainnya sehingga yang akan sangat merasakan dampak kenaikan harga BBM ini adalah masyarakat miskin," kata Ketua FAMS Yayan Hendayana, kepada wartawan, Rabu (1/5/2013).

"Untuk itu, kami meminta agar pemerintah mengkaji ulang rencana kenaikan harga BBM ini," katanya.

Menurut mahasiswa, pemerintah seharusnya memaparkan berapa sesungguhnya total biaya produksi setiap liter BBM jika kenaikan harga itu disebabkan pencabutan subsidi. Dengan adanya pemaparan itu maka rakyat akan tahu apakah subsidi BBM ada atau tidak.


Bahkan, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh pakar ekonomi, Kwik Kian Gie, biaya produksi BBM tidak lebih dari Rp 500 per liter. Dengan demikian,  sesungguhnya subsidi BBM tidak ada. Dalam hal ini justru pemerintah yang diuntungkan.

Disebutkan, uraian Kwik Kian Gie diperkuat fakta bahwa di negara lain harga jual BBM ternyata lebih murah dari Indonesia, antara lain Venezuela Rp 585 per liter, Nigeria Rp 1.170 per liter, Iran Rp 1.287 per liter, Arab Saudi Rp 1.404 per liter, dan Mesir Rp 2.300 per liter.

"Lalu apa sebenarnya penyebab harga BBM di Indonesia sebagai negara penghasil minyak, justru sembilan kali lebih mahal dari Venezuela. Seharusnya harga BBM di Indonesia lebih murah karena negara kita ini juga merupakan salah satu negara penghasil minyak," tambah Yayan.

Mahasiswa pun beragumen, tingginya harga BBM di Indonesia ini disebabkan oleh logika subsidi pemerintah yang salah kaprah. Subsidi yang seharusnya merupakan selisih harga jual dengan biaya produksi, justru dimaknai sebagai selisih harga jual BBM antara Singapura dan Indonesia.

Kemudian, 70 persen sumber minyak dan gas (migas) ternyata banyak dikuasai negara asing diantaranya, Perusahaan Total, Conoco, Chevron, Exxonmobil, British Petrolium.

Selanjutnya, Indonesia tidak mengelola pemurnian minyak, tetapi menjual minyak mentah dan membeli kembali minyak jadi dengan harga yang lebih mahal. Selain itu diduga adanya mafia minyak yang memainkan harga BBM untuk memperbesar keuntungan mereka.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tahun ke-4 Masa Jabatan, Wali Kota Semarang Fokus Benahi Layanan PDAM

Tahun ke-4 Masa Jabatan, Wali Kota Semarang Fokus Benahi Layanan PDAM

Regional
Dinilai Berjasa di Bidang Ekonomi Syariah, UNS Akan Beri Ma'ruf Amin Penghargaan

Dinilai Berjasa di Bidang Ekonomi Syariah, UNS Akan Beri Ma'ruf Amin Penghargaan

Regional
Kronologi Pemburu Burung Tewas Tersetrum Terkena Jebakan Babi

Kronologi Pemburu Burung Tewas Tersetrum Terkena Jebakan Babi

Regional
133 Kasus Diungkap Bea dan Cukai Kuala Namu Selama Januari, 'Sex Toys' Paling Dominan

133 Kasus Diungkap Bea dan Cukai Kuala Namu Selama Januari, "Sex Toys" Paling Dominan

Regional
Penipuan CPNS di Kebumen Terbongkar, Korban Rugi Rp 150 Juta hingga Jadi KPK Gadungan

Penipuan CPNS di Kebumen Terbongkar, Korban Rugi Rp 150 Juta hingga Jadi KPK Gadungan

Regional
Kamis, Pemkab Ciamis Kumpulkan Sejarawan, Budayawan hingga Ulama Bahas Polemik Galuh

Kamis, Pemkab Ciamis Kumpulkan Sejarawan, Budayawan hingga Ulama Bahas Polemik Galuh

Regional
Golkar Umumkan Hasil Survei Internal Pilkada di Jabar, Berikut Daftar Calon Potensial

Golkar Umumkan Hasil Survei Internal Pilkada di Jabar, Berikut Daftar Calon Potensial

Regional
Kebutuhan Masker Tinggi Dampak Virus Corona, Wanita Ini Menjual Masker Fiktif, Tipu Korban Rp 11,4 Juta

Kebutuhan Masker Tinggi Dampak Virus Corona, Wanita Ini Menjual Masker Fiktif, Tipu Korban Rp 11,4 Juta

Regional
[POPULER NUSANTARA] Puluhan Pengantin Korban WO Abal-abal | Pasien Suspect Virus Corona di Babel

[POPULER NUSANTARA] Puluhan Pengantin Korban WO Abal-abal | Pasien Suspect Virus Corona di Babel

Regional
Kasus Penipuan 'Wedding Organizer' di Cianjur, Polisi Bentuk Timsus

Kasus Penipuan "Wedding Organizer" di Cianjur, Polisi Bentuk Timsus

Regional
Pemkab Gresik Berharap Normalisasi Kali Lamong Dapat Segera Dilakukan

Pemkab Gresik Berharap Normalisasi Kali Lamong Dapat Segera Dilakukan

Regional
Cerita Para Pengantin Ditipu Wedding Organizer, Pernikahan Impian pun Akhinya Batal

Cerita Para Pengantin Ditipu Wedding Organizer, Pernikahan Impian pun Akhinya Batal

Regional
Dipenjara 2 Minggu, Tersangka Penghina Risma Keluar Tahanan dan Cium Pipi Anaknya

Dipenjara 2 Minggu, Tersangka Penghina Risma Keluar Tahanan dan Cium Pipi Anaknya

Regional
Jenazah Pratu Yanuarius Loe, Korban Heli MI-17 asal NTT Diterbangkan Hari Ini

Jenazah Pratu Yanuarius Loe, Korban Heli MI-17 asal NTT Diterbangkan Hari Ini

Regional
Terlibat Prostitusi Online, Ibu Ini Tawarkan Gadis di Bawah Umur Lewat WhatsApp

Terlibat Prostitusi Online, Ibu Ini Tawarkan Gadis di Bawah Umur Lewat WhatsApp

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X