Insiden Musi Rawas karena Disinformasi - Kompas.com

Insiden Musi Rawas karena Disinformasi

Kompas.com - 30/04/2013, 22:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi III DPR Ahmad Yani menilai insiden di Musi Rawas yang menewaskan empat warga dan melukai sejumlah polisi, akibat dari informasi tidak lengkap yang diterima warga.

"DPR sebenarnya sudah ingin mengesahkan Musi Rawas Utara menjadi kabupaten saat paripurna 12 Maret 2013, sebelum reses bulan lalu. Namun, karena ada satu persyaratan yang kurang lengkap, pengesahan tersebut ditunda," kata Ahmad Yani di Jakarta, Selasa (30/4/2013.

Wakil Ketua Fraksi PPP DPR itu mengatakan, saat sidang paripurna tersebut, pimpinan sidang menyatakan Musi Rawas Utara akan disahkan pada masa sidang berikutnya. Dia berjanji akan tetap mengawal dan memperjuangkan pemekaran daerah tersebut menjadi kenyataan.

Selain informasi yang tidak lengkap, Yani juga menduga ada pihak-pihak tertentu yang berupaya melakukan provokasi kepada warga. Menurut dia, kemungkinan ada yang tidak setuju dengan pemekaran wilayah.

"Saya meminta polisi mengusut tuntas motif dari provokasi kepada masyarakat ini, termasuk upaya disinformasi yang disampaikan kepada masyarakat," ujarnya.

Terkait meninggalnya empat warga dengan luka tembak di kepala, Yani meminta Bidang Profesi dan Pengaman (Propam) Polri untuk menyelidiki karena jelas terjadi pelanggaran prosedur.

"Masa menghadapi masyarakat polisi menggunakan peluru tajam. Menghadapi pendemo, polisi seharusnya menggunakan peluru hampa atau gas air mata. Ini harus diselidiki karena saya mendengar polisi lebih dahulu menyerang," katanya.

 


EditorAgus Mulyadi
Komentar

Terkini Lainnya

Hakim Tunda Vonis 8 WN Taiwan Penyelundup 1 Ton Sabu-sabu

Hakim Tunda Vonis 8 WN Taiwan Penyelundup 1 Ton Sabu-sabu

Megapolitan
Bersama Dua Teman, Pria Ini Bergantian Perkosa Putri Kandungnya

Bersama Dua Teman, Pria Ini Bergantian Perkosa Putri Kandungnya

Internasional
Akademi Antikorupsi, Kuliah Singkat Lawan Korupsi dengan Metode 'E-Learning'

Akademi Antikorupsi, Kuliah Singkat Lawan Korupsi dengan Metode "E-Learning"

Nasional
Perpanjangan Waktu Ganjil-Genap Sudirman-Thamrin Mulai Diuji Coba Senin

Perpanjangan Waktu Ganjil-Genap Sudirman-Thamrin Mulai Diuji Coba Senin

Megapolitan
Mobil Tabrak Pipa Saluran Gas Bikin Rumah Berusia 60 Tahun Meledak

Mobil Tabrak Pipa Saluran Gas Bikin Rumah Berusia 60 Tahun Meledak

Internasional
Cak Imin Merasa Dipuji Jokowi soal Baliho Wajahnya Lebih Banyak Dibanding Promosi Asian Games

Cak Imin Merasa Dipuji Jokowi soal Baliho Wajahnya Lebih Banyak Dibanding Promosi Asian Games

Nasional
Pedagang di Jalan Jatibaru Akan Dipindah ke Lahan Milik Sarana Jaya

Pedagang di Jalan Jatibaru Akan Dipindah ke Lahan Milik Sarana Jaya

Megapolitan
Mantan Narapidana Korupsi Dianggap Tak Berhak Tempati Kursi Parlemen

Mantan Narapidana Korupsi Dianggap Tak Berhak Tempati Kursi Parlemen

Nasional
Berkat YouTube, Pria yang Hilang 40 Tahun Bertemu dengan Keluarganya

Berkat YouTube, Pria yang Hilang 40 Tahun Bertemu dengan Keluarganya

Internasional
Terlilit Utang, Pegawai BRI Kuras Dana Nasabah hingga Rp 562 Juta

Terlilit Utang, Pegawai BRI Kuras Dana Nasabah hingga Rp 562 Juta

Regional
Trump Siap Bekerja Ekstra Keras Demi Warga Jepang yang Diculik Korut

Trump Siap Bekerja Ekstra Keras Demi Warga Jepang yang Diculik Korut

Internasional
Satu Warga di Pulau Buru Terjangkit Penyakit Aneh, Diduga karena Merkuri

Satu Warga di Pulau Buru Terjangkit Penyakit Aneh, Diduga karena Merkuri

Regional
Jaksa Keberatan Fredrich Sebut Penyidik KPK Desersi Polri

Jaksa Keberatan Fredrich Sebut Penyidik KPK Desersi Polri

Nasional
Curi Kucing untuk Dijadikan Sup Tradisional, 2 Pria Ditangkap

Curi Kucing untuk Dijadikan Sup Tradisional, 2 Pria Ditangkap

Internasional
Begini Panduan Cara Berunding dengan Korut

Begini Panduan Cara Berunding dengan Korut

Internasional

Close Ads X