Kompas.com - 27/04/2013, 07:37 WIB
EditorAgus Mulyadi

SAMARINDA, KOMPAS.com — Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur Musyahrim mengatakan, kelulusan ujian nasional (UN) tidak ditentukan penggandaan soal terkait keterlambatan distribusi, tetapi berdasarkan hasil usaha dari siswa sendiri.

"Lulus itu bukan karena ada soal yang difotokopi atau digandakan, tetapi murni dari hasil anak itu sendiri dalam menjawab soal-soal yang memenuhi kategori kelulusan," ungkap Musyahrim ketika menjawab pertanyaan wartawan terkait pernyataan Wali Kota Samarinda, Syaharie Jaang, yang meminta kompensasi kelulusan 100 persen bagi peserta UN di daerah itu dan Kaltim akibat karut-marutnya pelaksanaan UN, Jumat (26/4/2013).

UN, menurut Musyahrim, merupakan sebuah proses dalam dunia pendidikan. Penilaian dari hasil UN itu menjadi barometer keberhasilan siswa dalam menjawab soal yang diujikan.

"Tentunya, semua pihak apakah itu wali kota, kepala dinas, kepala sekolah, guru, dan orangtua siswa mengharapkan semua lulus. Tetapi, tidak boleh kita menentukan kelulusan itu hanya karena ada permasalahan," ujarnya.

Misalnya, kata dia, dari 100 peserta itu, kemudian dua orang yang tidak lulus, apakah itu disebabkan oleh soal yang difotokopi atau karena terganggu oleh penundaan pelaksanaan UN.

"Kalau memang dari 100 peserta lantas yang lulus hanya dua orang, itu yang kita evaluasi dan nanti dilihat dari lembar kerjanya. Jadi, kita harus menyadari bahwa ujian itu melalui proses dan berjalan sesuai tata aturan," ujar Musyahrim.

Masalah hasilnya, katanya, itu akan terlihat di lembar kerjanya dan tidak bisa kita mengklaim harus lulus 100 persen. "Kalau memang tidak lulus, tidak boleh diluluskan," katanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebelumnya, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang meminta kompensasi kelulusan 100 persen akibat tertundanya pelaksanaan UN di daerah itu.

"Tertundanya pelaksanaan ujian nasional tingkat SMA/SMK di beberapa provinsi, termasuk di Kota Samarinda, mengakibatkan ribuan peserta UN menjadi resah dan tentunya kondisi tersebut secara psikologis mengganggu para siswa dan pada akhirnya akan berpengaruh pada kekhawatiran hasil dari UN nanti," kata Syaharie Jaang.

"Ini bukan harapan, tetapi permintaan saya kalau bisa peserta UN harus lulus 100 persen, baik siswa di Samarinda maupun di Kaltim, sebagai kompensasi keterlambatan distribusi maupun pengandaan soal," katanya.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.