Kompas.com - 25/04/2013, 17:54 WIB
|
EditorMarcus Suprihadi

AMBON, KOMPAS.com- Maluku membutuhkan pemimpin yang tidak sekadar memahami karakter dan kebutuhan daerah, tetapi juga visioner dan memiliki kapasitas mengelola sumber daya di Maluku, sehingga memiliki nilai tambah. Dengan begitu, Maluku tidak terus tergantung pada dana dari Pemerintah Pusat.

Demikian disampaikan pengamat politik dari Universitas Pattimura, Ambon, Tony Pariella, di Ambon, Kamis (25/4/2013), saat ditanyakan pandangannya terkait pemilihan kepala daerah Maluku yang akan diselenggarakan, 11 Juni 2013.

"Saya melihat calon-calon Gubernur/Wakil Gubernur Maluku yang sudah ditetapkan KPU Maluku, terutama yang pernah atau sedang menjabat di pemerintahan, tidak memiliki kelebihan itu. Itu terlihat saat mereka menjabat di pemerintahan," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, kelima pasangan calon yang sudah ditetapkan KPU Maluku adalah Said Assagaff (Wakil Gubernur Maluku)-Zeth Sahuburua (Ketua DPD Partai Golkar Maluku), Abdullah Tuasikal (mantan Bupati Maluku Tengah)-Hendrik Lewerissa (Ketua DPD Partai Gerindra Maluku), dan Abdullah Vanath (Bupati Seram Bagian Timur)-Marthin Jonas Maspaitella (pengajar di Universitas Kristen Indonesia Maluku, Ambon).

Kemudian pasangan Jacobus F Puttileihalat (Bupati Seram Bagian Barat)-Arifin Tapi Oyihoe (pengajar di Universitas Pattimura, Ambon), dan Herman Koedoeboen (Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Gorontalo)-Daud Sangadji (pengusaha).

Tony melanjutkan, pengalaman memimpin pemerintahan memang menjadi kelebihan calon-calon yang pernah atau masih menjabat di pemerintahan. Namun lebih dari itu dibutuhkan keterampilan berpikir dan beraksi untuk mengolah sumber daya di Maluku.

Karena itu, jika nantinya salah satu pasangan calon sudah terpilih untuk memimpin Maluku, pasangan itu harus sadar diri. Kelemahan yang mereka miliki harus bisa ditutupi oleh jajaran pemerintahan di bawahnya.

"Artinya, pemimpin terpilih nantinya harus memilih orang yang tepat dan memiliki keahlian untuk menduduki jabatan-jabatan di pemerintahan, tidak dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan politik," jelasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.