Distributor Ilegal di Kalbar Oplos Gula

Kompas.com - 25/04/2013, 02:52 WIB
Editor

PONTIANAK, KOMPAS - Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia Kalimantan Barat menemukan praktik pengoplosan gula ilegal asal Malaysia dan gula produksi lokal Indonesia. Cara ini dilakukan distributor untuk bisa meraup keuntungan lebih besar dari selisih harga Rp 2.000 per kilogram.

Pengoplosan itu merupakan salah satu praktik ilegal yang ditemukan Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (Apegti) Kalbar. Praktik itu sudah berlangsung minimal tiga bulan terakhir di sejumlah daerah di Kalbar.

Modus lain untuk memperoleh keuntungan lebih besar adalah dengan mengganti karung. Karung gula Malaysia diganti menggunakan karung palsu yang seolah-olah milik pabrik gula di Jawa.

Ketua Apegti Kalbar Syarif Usman Djafar Almuthahar, Rabu (24/4), mengatakan, pengoplosan itu dilakukan distributor-distributor ilegal yang ingin mengambil untung besar.

”Selisih harga gula ilegal dan gula resmi dari Jawa bisa mencapai Rp 2.000 per kilogram. Dengan mengoplos gula, distributor nakal bisa mendapatkan keuntungan berlipat dibandingkan dengan hanya menjual gula resmi,” kata Usman.

Saat ini harga gula dari Pulau Jawa rata-rata Rp 12.000 per kilogram di beberapa daerah di Kalbar. Sementara harga gula ilegal asal Malaysia hanya Rp 10.000 per kilogram.

Padahal, sebulan terakhir, gula ilegal asal Malaysia kembali marak beredar di wilayah Kalbar. Sedikitnya sudah 42 ton gula ilegal asal Malaysia yang disita kepolisian dan TNI dalam beberapa kali penangkapan, termasuk yang disita Kepolisian Resor Singkawang, Selasa lalu.

Dijual kepada penampung

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Singkawang Ajun Komisaris Isbullah mengatakan, gula ilegal asal Malaysia itu disita dari sebuah bus jurusan Seluas (Kabupaten Bengkayang)-Singkawang dengan nomor polisi KB 7011 K. ”Dari hasil penyelidikan, polisi menetapkan tiga tersangka, yakni TN, KTB, dan NH. Mereka adalah sopir dan pemilik gula,” ujar Isbullah.

Polisi menyita 40 karung gula merek AAA seberat 2 ton serta 160 paket gula merek GPT dan CSR seberat 140 kilogram. Gula yang diangkut oleh tersangka dari Pasar Seluas itu berasal dari wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia di Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang. Wilayah tersebut belum diresmikan sebagai daerah perlintasan Indonesia dan Malaysia. Namun, wilayah itu bisa digunakan secara terbatas oleh masyarakat perbatasan yang hendak berbelanja di Pasar Serikin, Sarawak, Malaysia.

Gula asal Malaysia yang dibeli masyarakat itu lalu dikumpulkan dan dijual kepada penampung. Kemudian akan dijual ke luar wilayah perbatasan.

Praktik ini dilarang karena bahan makanan asal Malaysia hanya boleh beredar di wilayah kecamatan paling dekat dengan garis batas kedua negara. Ini sesuai dengan perjanjian perdagangan perbatasan tahun 1970. Tersangka akan dijerat dengan Undang- Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. (AHA)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.