Aksi Ribuan Lilin dan Tutup Mata Simbol Pengabaian

Kompas.com - 18/04/2013, 04:08 WIB
Editor

Banda Aceh, Kompas - Untuk mendesak Pemerintah Aceh menindaklanjuti setiap kasus kekerasan seksual yang menimpa perempuan dan anak- anak di Aceh, para aktivis dan mahasiswa menggelar unjuk rasa pada Selasa (16/4) malam di samping Masjid Baiturrahman, Banda Aceh.

Pengunjuk rasa yang berasal dari Koalisi Advokasi dan Pemantau Hak Anak, Yayasan Pulih Aceh, serta Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Aceh tak hanya menyalakan ribuan lilin, tetapi juga menutup mata dengan kain hitam. Hal itu dilakukan sebagai simbol pengabaian aparat pemerintah.

”Pemerintah Aceh seperti menutup mata dengan kejadian-kejadian tersebut. Mereka lebih disibukkan dengan masalah politik, khususnya bendera, tetapi melupakan perlindungan anak yang harus diutamakan,” ujar Muhammad Munzir, koordinator aksi tersebut.

Sejauh ini, dua kasus pemerkosaan di Aceh yang menonjol dan dipersoalkan aktivis serta mahasiswa adalah kasus almarhum Di (6), warga Pelanggahan, Banda Aceh, yang diperkosa pamannya. Kasus lainnya adalah kasus pemerkosaan siswi berusia 9 tahun di Kuta Malaka, Aceh Besar, oleh guru bantu di sekolahnya.

Pelapor bertambah

Sementara itu, jumlah pelapor kasus dugaan pelecehan seksual oleh H, kepala SMP negeri di Kota Batam, Kepulauan Riau, bertambah menjadi 19 orang. Sebelumnya, 14 siswi telah melapor ke polisi karena dugaan adanya pelecehan seksual. Namun, kelima siswa yang baru melapor itu belum diketahui pasti, mereka korban pelecehan seksual secara langsung atau tidak.

Menurut komisioner Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepulauan Riau, Erry Syahrial, penyidik memang sudah menerima laporan lima siswi lainnya yang diduga menjadi korban dari tindakan H.

Erry memastikan bahwa KPPAD akan terus mendampingi para korban. Apalagi, korban saat ini masih traumatis akibat pelecehan yang terjadi pada Februari hingga Maret lalu. Bahkan, ada korban yang mengaku, H dua kali melakukan perbuatannya.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Kepolisian Resor Batam Rempang Galang (Barelang) Ajun Inspektur Puji Hastuti menolak memberikan keterangan. Alasannya, dia dilarang oleh Kepala Polres Barelang Komisaris Besar Karyoto untuk berkomentar mengenai kasus itu. Sebab, kasus tersebut masih dalam penyelidikan.

H dipastikan tak bisa diperiksa dalam waktu dekat karena pada Rabu dini hari ia masuk Rumah Sakit Awal Bros, Batam.

”Kabarnya demikian dan sudah disampaikan kepada pimpinan. Kami masih menunggu keterangan dokter tentang kondisi yang bersangkutan,” ujar Kepala Bagian Humas Pemerintah Kota Batam Ardi Winata.

Informasi yang dihimpun Kompas, H mengalami depresi karena jadi sorotan masyarakat. Sejak Senin lalu, saat 14 siswi melaporkan kasus itu ke polisi, ia sudah tidak terlihat di sekolah. Meski ditarik sementara ke dinas pendidikan, H tak pernah terlihat di kantor tersebut.(han/raz)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.