Kompas.com - 11/03/2013, 01:59 WIB
EditorBenny N Joewono

Kegiatan tersebut, menurut Ngurah Sudiana, bermakna untuk meningkatkan hubungan yang harmonis dan serasi sesama umat manusia, lingkungan, dan Tuhan Yang Maha Esa.

Tawur Kesanga yang berakhir pada petang hari itu dilanjutkan dengan "Ngerupuk" dan arak-arakan ogoh-ogoh bertujuan menetralkan semua kekuatan dan pengaruh negatif. Selasa, umat Hindu merayakan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1935 dengan melaksanakan Tapa Berata penyepian.

Empat pantangan wajib dipatuhi meliputi tidak menyalakan lampu/api (Amati Geni), tidak melakukan aktivitas (Amati Karya), tidak bepergian (Amati Lelungan), serta tidak mengadakan rekreasi atau bersenang-senang (Amati Lelanguan).

"Pelaksanaan Catur Brata penyepian diawasi secara ketat oleh petugas keamanan desa adat (pecalang) di bawah koordinasi prajuru banjar setempat," ujar Ngurah Sudiana.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.