Sidang Tawuran Pelajar, Saksi Tak Lihat Fitra Menyabet Alawy

Kompas.com - 27/02/2013, 20:18 WIB
Penulis Alsadad Rudi
|
EditorLaksono Hari W

JAKARTA, KOMPAS.com - Empat saksi yang dihadirkan tim jaksa penuntut umum (JPU) dalam kasus tawuran antara siswa SMA Negeri 70 dan siswa SMA Negeri 6, Jakarta Selatan, dinilai memberikan kesaksian yang lemah dan berbelit-belit. Hal itu cukup mengecewakan bagi tim kuasa hukum dari terdakwa Fitra Ramadhani.

Ketua tim kuasa hukum dari Fitra, Nazaruddin Lubis, bahkan sempat mengeluarkan pernyataan yang menyinggung jaksa Arya Wicaksana. "Saudara dalam sehari dari parkir dapat berapa? Nanti minta ke Pak Jaksa, ya, karena Anda tidak tahu apa-apa, tetapi dihadirkan jadi saksi," ujar Nazaruddin kepada saksi Muhammad Subekti di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (27/2/2013) sore.

Sidang kali ini digelar dalam rangka mendengarkan keterangan para saksi. Dalam persidangan yang molor 2,5 jam dari jadwal semula tersebut, empat orang saksi yang dihadirkan terdiri atas dua petugas minimarket 7-Eleven Bulungan, yaitu Muhammad Subekti dan Darajat, serta dua siswa SMA Negeri 6 yang terlibat dalam tawuran, yaitu Farouk Habibullah El Hasan dan Rahmadan Dimas. Terdakwa kasus ini yang juga siswa SMA Negeri 70, Fitra Ramadhani, juga dihadirkan di ruang persidangan.

Dalam proses persidangan, dua petugas parkir 7-Eleven Bulungan, yaitu Muhammad Subekti maupun Darajat, pada intinya mengetahui terjadi bentrokan. Namun, mereka tidak mengetahui pasti tentang proses tewasnya Alawy Yusianto Putra di tangan Fitra. Subekti bahkan menyatakan tidak melihat Fitra di lokasi kejadian. "Saya cuma tahu ada tawuran, tapi enggak ngeliat terdakwa," kata Subekti kepada hakim.

Adapun Darajat mengetahui ada tawuran, tetapi tidak melihat ada korban tewas. Dia baru mengetahui bahwa Alawy tewas dari kabar yang beredar tidak lama setelah kejadian. "Pas tawuran enggak ngeliat ada korban. Terus setelahnya dapat kabar ada jasad tergeletak depan KFC," kata Darajat.

Sementara itu, saksi dari siswa SMA Negeri 6, Farouk Habibullah El Hasan dan Rahmadan Dimas, menyampaikan keterangan yang berbelit-belit. Menjawab hakim, Farouk mengatakan melihat jelas ketika terdakwa Fitra menikam Alawy dengan sabetan arit. Namun, ketika ditanya tim kuasa hukum Fitra, Farouk mengatakan tidak melihat jelas karena sedang dalam posisi lari untuk menyelamatkan diri.

"Pas menoleh ke belakang, tiba-tiba korban sudah tergeletak," kata Farouk saat ditanya oleh tim kuasa hukum Fitra.

Adapun Dimas menyatakan tidak melihat jelas karena sempat terkena hantaman balok di bagian pelipas kiri. "Apa yang dilakukan terdakwa kepada korban, saya tidak tahu," kata Dimas di hadapan hakim.

Persidangan kasus ini akan kembali dilanjutkan pada Rabu (6/3/2013) pekan depan untuk mendengarkan keterangan saksi lain. Berdasarkan dakwaan Jaksa, Fitra terancam akan dikenakan pasal berlapis dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Pasal-pasal yang akan dikenakan meliputi Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, Pasal 170 ayat (2) KUHP tentang pengeroyokan, dan Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan orang meninggal.

Tawuran antara dua sekolah menengah atas di Jakarta Selatan itu terjadi pada 24 September 2012 di Jalan Bulungan dan Jalan Mahakam, Kebayoran Baru, sekitar pukul 12.30 WIB. Insiden itu bermula ketika Fitra bersama teman-temannya sedang berada di warung rokok, tidak jauh dari sekolah mereka. Secara tiba-tiba, dari arah bundaran Bulungan, terdengar teriakan keras bahwa sudah ada siswa SMA Negeri 6 di tempat tersebut.

Mendengar teriakan tersebut, sejumlah siswa SMA Negeri 70 langsung berkumpul. Mereka kemudian berjalan menuju ke arah bundaran Bulungan tempat sejumlah siswa SMA Negeri 6 telah menunggu mereka.

Tidak lama kemudian, rombongan siswa SMA Negeri 6 terlihat kocar-kacir melarikan diri dari arah bundaran Bulungan menuju Jalan Mahakam dan dikejar rombongan dari SMA Negeri 70. Diduga mereka sempat terlibat bentrokan awal di seputar bundaran Bulungan.

Di Jalan Mahakam itulah bentrokan kedua terjadi. Di situlah Alawy, yang sebelumnya tidak ikut bentrokan pertama karena sebelumnya hanya duduk-duduk di sebuah warung di jalan tersebut, akhirnya tewas akibat sabetan arit yang dilakukan Fitra.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

'Menyampaikan Aspirasi dengan Demonstrasi Disangka Biang Kerusuhan'

"Menyampaikan Aspirasi dengan Demonstrasi Disangka Biang Kerusuhan"

Regional
[POPULER NUSANTARA] Pria Penanam Ganja Ternyata Adik Mantan Wali Kota Serang | Nyanyikan Lagu yang Singgung Polisi Saat Demo, Mahasiswa Ditangkap

[POPULER NUSANTARA] Pria Penanam Ganja Ternyata Adik Mantan Wali Kota Serang | Nyanyikan Lagu yang Singgung Polisi Saat Demo, Mahasiswa Ditangkap

Regional
Fakta Honda Jazz Tabrak Truk Fuso, Selamat karena Tidur di Bagasi dan Dikira Ban Meletus

Fakta Honda Jazz Tabrak Truk Fuso, Selamat karena Tidur di Bagasi dan Dikira Ban Meletus

Regional
Tidur di Bagasi Honda Jazz, Ferdian Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Sumsel

Tidur di Bagasi Honda Jazz, Ferdian Selamat dari Kecelakaan Maut di Tol Sumsel

Regional
Kronologi Bayi Ditemukan Dalam Tas Ransel di Madiun, Berawal dari Suara Tangis

Kronologi Bayi Ditemukan Dalam Tas Ransel di Madiun, Berawal dari Suara Tangis

Regional
11 Penambang Batu Bara Tewas Tertimbun Longsor, 1 Korban Belum Teridentifikasi

11 Penambang Batu Bara Tewas Tertimbun Longsor, 1 Korban Belum Teridentifikasi

Regional
Banten Catatkan Penambahan Kasus Tertinggi Covid-19, Disumbang dari Ponpes

Banten Catatkan Penambahan Kasus Tertinggi Covid-19, Disumbang dari Ponpes

Regional
Besok, Giliran Buruh Demo Tolak UU Cipta Kerja di Gedung DPRD Kalsel

Besok, Giliran Buruh Demo Tolak UU Cipta Kerja di Gedung DPRD Kalsel

Regional
Hasil Rapid Test Reaktif, 58 Napi di Lapas Perempuan Denpasar Diisolasi di Sel Khusus

Hasil Rapid Test Reaktif, 58 Napi di Lapas Perempuan Denpasar Diisolasi di Sel Khusus

Regional
Dilarang Ikut Demo Tolak UU Cipta Kerja, Mahasiswa UGM Kemping di Kampus

Dilarang Ikut Demo Tolak UU Cipta Kerja, Mahasiswa UGM Kemping di Kampus

Regional
Pasutri Spesialis Pembobol Jok Motor Ditangkap, Suami Ditembak Polisi

Pasutri Spesialis Pembobol Jok Motor Ditangkap, Suami Ditembak Polisi

Regional
Gegara Knalpot Racing, Warga Antarkampung di Papua Ribut, Satu Terluka Dianiaya

Gegara Knalpot Racing, Warga Antarkampung di Papua Ribut, Satu Terluka Dianiaya

Regional
Kecelakaan Beruntun di Jalan Jember-Lumajang, 2 Warga Tewas

Kecelakaan Beruntun di Jalan Jember-Lumajang, 2 Warga Tewas

Regional
Mahasiswa Kecewa Gubernur dan Wagub Kaltim Tak Bersikap Tolak UU Cipta Kerja

Mahasiswa Kecewa Gubernur dan Wagub Kaltim Tak Bersikap Tolak UU Cipta Kerja

Regional
Besok, Jenazah KH Abdullah Syukri Zarkasyi MA Dikebumikan di Pemakaman Keluarga

Besok, Jenazah KH Abdullah Syukri Zarkasyi MA Dikebumikan di Pemakaman Keluarga

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X