JK: Separatisme Bersenjata di Papua Harus Dilawan Senjata Juga

Kompas.com - 26/02/2013, 23:19 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani

DEPOK, KOMPAS.com — Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai separatisme bersenjata di Papua lawannya adalah aparat keamanan yang bersenjata pula. Masalah di Papua, kata Kalla, murni keinginan untuk melawan.

"Kalau ada separatis yang bersenjata maka harus pendekatannya pakai senjata juga," kata Kalla di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Selasa (26/2/2013). Permasalahan Papua, menurut dia, bersumber dari perasaan ketidakadilan.

"Selain itu, anggaran dari pusat yang besar juga belum dirasakan (masyarakat Papua)," tutur Kalla. Hal itu termasuk, sebut dia, hasil otonomi khusus. Pemerintah pusat, ujar dia, sudah memberikan kewenangan besar bagi daerah di Papua untuk membangun daerahnya.

Separatisme dalam kacamata hak asasi manusia (HAM), tegas Kalla, juga melanggar konsep HAM itu sendiri. Sebab, penembakan atas anggota TNI termasuk dalam pelanggaran HAM.

Publik, kata Kalla, harus melihat anggota TNI yang ditembak juga sebagai korban pelanggaran HAM. "Ini juga melanggar HAM, kalau pasal pertama itu (UUD 1945) semua berhak mendapat kehidupan, kalau TNI diambil kehidupannya bukannya itu melanggar HAM? Kenapa (kalau) pemberontak ditembak melanggar HAM, tapi TNI ditembak tidak melanggar HAM? Ini harus juga diperhatikan," tegas dia.

Serangan bersenjata

Penembakan sebelumnya terjadi di dua wilayah berbeda di Papua, Kamis (21/2/2013). Pertama, penembakan terjadi di dekat Pos Satgas TNI, Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, pada pukul 09.00 WIT. Satu anggota TNI dinyatakan tewas atas nama Pratu Wahyu Bowo dan korban luka, yakni Danpos Satgas Lettu Inf Reza, yang tertembak pada lengan bagian kiri.

Sementara itu, tujuh orang lainnya tewas saat terjadi penghadangan serta penyerangan oleh kelompok bersenjata di Kampung Tanggulinik, Distrik Sinak, Kabupaten Puncak Jaya, pukul 10.30 WIT. Saat itu, 10 anggota Koranmil Sinak Kodim 1714/Puncak Jaya sedang menuju Bandara Sinak untuk mengambil radio dari Nabire. Tujuh orang yang tewas adalah Sertu Udin, Sertu Frans, Sertu Romadhon, Pratu Mustofa, Sertu Edy, Praka Jojon, dan Praka Wempi.

Di Distrik Sinak, sebanyak empat warga sipil tewas atas nama Yohanis, Uli, Markus, dan seorang lagi belum diketahui identitasnya. Sementara itu, warga sipil yang terluka adalah Joni, Ronda, Rangka, dan Santin.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto menduga kuat penembakan di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, merupakan aksi penyerangan dari kelompok Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) pimpinan Goliath Tabuni.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.