Kompas.com - 20/02/2013, 17:30 WIB
EditorDini

KOMPAS.com -  Sebagai sebuah provinsi, Nusa Tenggara Barat mempunyai wilayah yang luas, terdiri atas dua pulau: Lombok dan Sumbawa. Setiap pulau dihuni oleh suku yang berbeda. Pulau Lombok dengan Suku Sasak, dan Pulau Sumbawa bagian barat didiami Suku Sumbawa. Bagian timurnya dihuni Suku Mbojo.

Bagi suku-suku di NTB, tenun sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sebuah kegiatan keseharian yang dilakukan serta menjadi tradisi turun- menurun. Kekayaan tenun lombok terletak pada kekhasan motif yang berbeda pada tiap sukunya. Ini merupakan kekayaan warisan bangsa yang sangat penting untuk dijaga kelestariannya.

Di NTB sendiri saat ini, sudah terdapat 136 jumlah sentra perajin dengan 15.063 jumlah perajin tenun. Melihat potensi ini, berbagai upaya memajukan tenun NTB pun dilakukan Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) NTB, sekaligus sebagai usaha untuk mengentaskan kemiskinan.

Dekranasda NTB pun mengikuti ajang Indonesia Fashion Week agar tenun makin dikenal dan disukai. Dwi Iskandar dan Epoel Daeng Hasanung adalah dua desainer lokal yang diajak berkolaborasi dengan Dekranasda NTB mengkreasikan busana siap pakai untuk pria dari tenun NTB. Di tangan dua desainer ini kain tenun disulap menjadi pakaian kasual yang dapat dikenakan sehari-hari.

Perpaduan gaya etnik dan modern Dwi Iskandar
Koleksi yang dinamakan “The New Begining” menampilkan busana siap pakai untuk pria. Dwi Iskandar bermain padu padan tenun dengan celana selutut yang terkesan santai dan funky. Palet warna terang banyak digunakan, seperti oranye, merah, kuning, hijau, hitam, dan unggu. 

Kalau selama ini kain tradisional hanya dibuat sebatas kemeja untuk busana pria,  di tangan Dwi tenun lombok juga dikreasikan menjadi celana panjang, kemeja panjang dan pendek.

“Koleksi busana siap pakai pria menggunakan warna-warna terang seperti oranye, merah, kuning. Koleksinya terinspirasi dari busana ala Timur Tengah yang disesuaikan dengan gaya Indonesia, dan ditujukan untuk kalangan muda,” beber Dwi saat jumpa pers di Jakarta Convention Center, Minggu, (17/2/2013), menjelang show-nya di hari yang sama.

Dwi Iskandar

Karena menyasar pasar anak muda, desain yang fun, warna-warna terang dan dinamis dirasa akan mengena pada kaum muda untuk lebih menyukai dan mencintai tenun. Beberapa di antaranya menggunakan aksen hand stitching. Secara keseluruhan Dwi menggambarkan koleksinya sebagai gaya etnik dengan modern look.

Ketika berpadu dengan jins ala Epoel 

Epoel 

Sementara itu, Epoel Daeng Hasanung banyak merancang tenun untuk kemeja, namun ada pula yang didesain sebagai celana longgar. “Tenun biasanya hanya dikenakan pada acara resmi dan formal seperti pesta pernikahan. Saya ingin tenun lebih luas pemakaiannya, termasuk oleh anak muda,” ujar Epoel Daeng Hasanung.

Usahanya mengenalkan tenun pada kaum muda terlihat pada koleksinya dengan pilihan warna yang berani dan cerah. Epoel memadukan menunjukkan tenun pun dapat  dipadankan dengan jins. Koleksi busana  Epoel menawarkan pilihan kemeja tenun, dan rompi yang apik.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.