MUI Samarinda Haramkan "Polisi Tidur"

Kompas.com - 07/02/2013, 10:21 WIB
EditorKistyarini

SAMARINDA, KOMPAS.com — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Samarinda mengharamkan keberadaan "polisi tidur" karena mengancam keselamatan pengguna jalan. "Polisi tidur" yang awalnya dimaksudkan untuk memperlambat laju pengendara malah belakangan menjadi ancaman.

Demikian dikatakan Ketua MUI Samarinda KH Zaini Naim menanggapi salah satu aspirasi peserta kepada Wali Kota Samarinda yang disampaikan dalam acara Rapat Terbuka dan Dialog Publik Ormas dan OKP se-Samarinda dengan pimpinan daerah Kota Samarinda di rumah jabatan wali kota di Jalan S Parman, Samarinda, Rabu (6/2/2013).

Dalam aspirasinya, peserta dari salah satu ormas tadi mencontohkan "polisi tidur" yang ada di depan kampus Politeknik Negeri Samarinda. Bahkan, menurut dia, "polisi tidur" bukan hanya terdapat di jalan-jalan perumahan di Samarinda, melainkan juga di jalan protokol.

Selain membahayakan pengendara, "polisi tidur" yang terlalu tinggi akan merusak bagian bawah kendaraan yang melintas di atasnya. Beberapa "polisi tidur" yang dibuat di tanjakan dan tikungan juga sangat besar kemungkinannya mengancam keselamatan pengguna jalan.


Menurut Zaini Naim, sebenarnya, "polisi tidur" seharusnya tidak boleh ada di jalan-jalan di Samarinda.

"Tidak boleh sama sekali. Kalau mengganggu kenyamanan pengguna jalan, dalam hukum agama Islam, itu ma'ruf. Kalau sampai mencederai orang, itu menjadi haram. Sangat tidak relevan itu, jalan sudah bagus-bagus. Dalam agama, jalan itu disuruh dilancarkan supaya orang mudah berjalan. Justru jalanan sudah bagus dikasih polisi tidur," ujar Zaini.

Seperti diketahui, "polisi tidur" adalah bagian jalan yang ditinggikan berupa tambahan aspal atau semen yang dipasang melintang di jalan untuk memperlambat laju kendaraan. Seiring dengan gencarnya semenisasi jalan di Kota Samarinda, turut dikuti pula dengan pertambahan "polisi tidur".

Seperti pemandangan di Jalan Elang Samarinda, dengan panjang jalan sekitar 1 km, terdapat sembilan "polisi tidur". Bahkan, di beberapa jalan perumahan di Samarinda Seberang, jarak "polisi tidur" yang satu dan lainnya tidak kurang dari 5 meter. Selain dibuat dari beton, warga juga terkadang membuatnya dari kayu yang dipalang melintang di tengah jalan.

Dari beberapa sumber, untuk Indonesia, "polisi tidur" sebenarnya tidak boleh asal dibangun. Ketentuan yang mengatur tentang desain "polisi tidur" diatur oleh Keputusan Menteri Perhubungan No 3 Tahun 1994 tentang Alat Pengendali dan Pengaman Pemakai Jalan, di mana sudut kemiringan adalah 15 persen dan tinggi maksimum tidak lebih dari 120 mm.

Sementara itu, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang menanggapi hal tersebut mengakui bahwa memang "polisi tidur" yang dibangun sendiri atas inisiatif warga ini mengakibatkan kurangnya kenyamanan pengguna jalan.

Akibat jarak "polisi tidur" yang satu dan yang lain terlalu berdekatan mengakibatkan goncangan-goncangan yang seharusnya tidak perlu ada. Ia berjanji akan mengoordinasikan hal ini dengan camat dan lurah di Samarinda.

"Kita sampaikanlah kepada camat dan lurah agar dikomunikasikan karena masyarakat sendiri yang bikin," katanya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hendak Gali Kubur, Warga Ngawi Temukan Orang Diduga Gantung Diri

Hendak Gali Kubur, Warga Ngawi Temukan Orang Diduga Gantung Diri

Regional
Bus Rombongan Pelajar SMA Banyuwangi Terguling di Lumajang, 20 Siswa Terluka

Bus Rombongan Pelajar SMA Banyuwangi Terguling di Lumajang, 20 Siswa Terluka

Regional
Jelang Pelantikan Jokowi, 595 Personel TNI-Polri Sisir Pulau Bali

Jelang Pelantikan Jokowi, 595 Personel TNI-Polri Sisir Pulau Bali

Regional
Fakta Baru Motivator Tempeleng 10 Siswa, Mengaku Khilaf hingga Dikecam KPAI

Fakta Baru Motivator Tempeleng 10 Siswa, Mengaku Khilaf hingga Dikecam KPAI

Regional
Jokowi-Ma'ruf Dilantik, Wakil Bupati Belitung Berharap Ekonomi Pariwisata Diperhatikan

Jokowi-Ma'ruf Dilantik, Wakil Bupati Belitung Berharap Ekonomi Pariwisata Diperhatikan

Regional
Ratusan Warga Doa Bersama Jelang Pelantikan Jokowi-Ma'ruf

Ratusan Warga Doa Bersama Jelang Pelantikan Jokowi-Ma'ruf

Regional
Cerita di Balik Pasutri yang Tewas Digigit Ular, Remaja 17 Tahun Jadi Tulang Punggung Adik-adiknya

Cerita di Balik Pasutri yang Tewas Digigit Ular, Remaja 17 Tahun Jadi Tulang Punggung Adik-adiknya

Regional
Mabuk Miras, Pemuda Ini Perkosa Mahasiswi

Mabuk Miras, Pemuda Ini Perkosa Mahasiswi

Regional
[POPULER NUSANTARA] Pasutri Tewas Digigit Ular | Pilkada Solo, Gibran Berjuang Maju Lewat PDI-P

[POPULER NUSANTARA] Pasutri Tewas Digigit Ular | Pilkada Solo, Gibran Berjuang Maju Lewat PDI-P

Regional
Fakta Kecelakaan Tol Lampung, Sopir Diduga Mengantuk hingga 4 Orang Tewas Terbakar

Fakta Kecelakaan Tol Lampung, Sopir Diduga Mengantuk hingga 4 Orang Tewas Terbakar

Regional
Tempeleng 10 Siswa, Motivasi Berujung Jeruji Besi: Saya Khilaf...

Tempeleng 10 Siswa, Motivasi Berujung Jeruji Besi: Saya Khilaf...

Regional
KPK Sita Sejumlah Dokumen di Kantor Dishub Medan

KPK Sita Sejumlah Dokumen di Kantor Dishub Medan

Regional
Sambut Pelantikan, Foto Jokowi dan Ma'ruf Amin Diarak dengan Gerobak Sapi Lewat Malioboro

Sambut Pelantikan, Foto Jokowi dan Ma'ruf Amin Diarak dengan Gerobak Sapi Lewat Malioboro

Regional
Kecelakaan Tol Lampung, Vanessa Tarik Adiknya Agar Tak Ikut Terbakar

Kecelakaan Tol Lampung, Vanessa Tarik Adiknya Agar Tak Ikut Terbakar

Regional
Katupkan Kedua Tangan, Agus Piranhamas Motivator yang Tempeleng 10 Siswa Minta Maaf

Katupkan Kedua Tangan, Agus Piranhamas Motivator yang Tempeleng 10 Siswa Minta Maaf

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X