Kompas.com - 06/02/2013, 17:29 WIB
|
EditorNasru Alam Aziz

SURABAYA, KOMPAS.com -- Industri berbasis tebu nasional belum mampu melakukan diversifikasi produk secara optimal. Pihak terkait di industri tebu hanya fokus pada peningkatan produksi gula, tanpa melirik potensi diversifikasi bisnis lain.

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X (Persero), Subiyono mengatakan, swasembada gula jangan hanya dirangkai dalam satu konteks pemenuhan produksi gula. "Artinya, tidak sekadar angka produksi gula, peningkatan rendemen, atau maksimalisasi kinerja mesin, tapi yang lebih penting dalah bagaimana membangun sebuah industri berbasis tebu (sugarcane based industry) yang kompleks dan terintegrasi," kata Subiyono, Rabu (6/2/2013) di Surabaya.

Sebagai komoditas yang mendapat regulasi tinggi, industri tebu mengandung persoalan yang begitu rumit, antara lain biaya produksi naik, seiring kenaikan harga tebu petani mahal karena peningkatan upah pekerja. Di sisi lain, harga gula tak bisa dibentuk pada level yang menjanjikan marjin memadai karena perhitungan daya beli konsumen dan intervensi pemerintah. "Setiap harga gula naik, pemerintah pasti melakukan intervensi," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat marjin pengusahaan gula tak mampu untuk ekspansi memperluas lahan maupun meningkatkan kualitas permesinan. Sehingga, pendapatan yang dihasilkan dari produksi gula dalam satu musim giling hanya untuk gaji karyawan, operasional perusahaan, dan dividen kepada pemegang saham. Padahal, industri ini butuh banyak investasi, mulai dari pabrik hingga budidaya. "Jika hanya mengandalkan dari bisnis gula, optimalisasi laba akan sulit dilakukan, sehingga investasi baru tak bisa optimal," kata Subiyono.

Karena itu, diperlukan diversifikasi bisnis agar kinerja perusahaan pergulaan terus meningkat. Keuntungan dari diversifikasi bisa digunakan antara lain untuk ekspansi lahan dan investasi permesinan yang dengan sendirinya juga akan meningkatkan produksi gula sebagai komoditas penting nasional.

Ketua Umum Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) Aris Toharisman mengatakan, di PTPN X, potensi penerimaan dari bisnis produk tebu nongula mencapai Rp 1,7 triliun per tahun. Pay back period-nya berkisar 3-5 tahun. Penerimaan itu berasal dari empat sektor bisnis. Pertama, cogeneration yang mengolah ampas tebu menjadi listrik. Potensi pendapatan dari bisnis ini di sepuluh pabrik gula di lingkungan PTPN X mencapai kisaran Rp 633,89 miliar sampai Rp 684,51 miliar.

Subiyono menjelaskan, asumsi adalah setiap 1 ton tebu akan menghasilkan sekitar 300 kilogram ampas tebu yang dengan proses sedemikian rupa bisa menghasilkan listrik rata-rata 100 KW. Total potensi listrik yang bisa dihasilkan dari pabrik gula di PTPN X mencapai 225 megawatt (MW).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di Pabrik Gula Ngadiredjo, Kediri, potensi listriknya 37,81 MW, dipakai sendiri 7,67 MW, bisa dijual sekitar 30,14 MW. Potensi pendapatannya Rp 107,42 miliar. Itu semua butuh investasi Rp 310,4 miliar, sehingga tingkat pengembalian investasinya (pay back period) sekitar 3 tahun.

Potensi bisnis kedua adalah etanol dengan bahan baku tetes tebu. Formulasi sederhananya adalah setiap satu ton tebu bisa menghasilkan 12 liter etanol. PTPN X setiap tahun menggiling sekitar 6,5 juta ton tebu, sehingga bisa menghasilkan 78 juta liter etanol atau ekuivalen dengan 78.000 kiloliter (KL). Dengan asumsi harga Rp 8.000 per liter, maka potensi pendapatan yang bisa diraup mencapai Rp 624 miliar.

Potensi bisnis ketiga adalah biokompos yang terbuat dari pengolahan limbah padat berupa abu atau blothong. Dengan asumsi setiap satu ton tebu bisa menghasilkan 40 kilogram biokompos, maka dari 6,5 juta ton tebu yang digiling akan diproduksi 260 juta kilogram biokompos. Dengan harga Rp 200 per kilogram, potensi pendapatan mencapai Rp 52 miliar.

Adapun potensi keempat adalah listrik tenaga biofuel hasil pengolahan dari limbah bioetanol. Dari penghitungan sederhana bisnis ini, potensi pendapatan yang bisa diraup adalah Rp 374 miliar. Dari empat bisnis tersebut potensi pendapatan yang bisa diraup mencapai sekitar Rp 1,7 triliun. Sebuah angka yang sangat signifikan untuk membantu perusahaan mengembangkan ekspansi bisnis.

"PTPN X sudah memulai bisnis cogeneration secara terbatas di Pabrik Gula Ngadiredjo, Kediri, membangun pabrik bioetanol di Mojokerto. Diversifikasi ini akan terus kami dorong," tuturnya.

PTPN X kini memiliki 11 pabrik gula yang tersebar di sejumlah kota di Jawa Timur, 3 kebun tembakau, dan 3 rumah sakit. Pada 2012, laba sebelum pajak perseroan mencapai Rp 517 miliar, meningkat pesat dibanding 2011 yang sebesar Rp 210 miliar.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.