Kompas.com - 16/01/2013, 15:35 WIB
|
EditorFarid Assifa

MAGELANG, KOMPAS.com -- Raibnya 141 lukisan di Museum H Widayat Mungkid, Magelang beberapa waktu lalu, mengundang keprihatinan banyak pihak, terutama bagi para pegiat seni di Magelang. Bagi mereka, museum yang terletak tak jauh dari Candi Borobudur itu adalah salah satu nafas dunia seni di Magelang.

"Bagi kami, keberadaan museum itu sangat berarti dan merupakan nafas bagi seniman dan Candi Borobudur. Kami sangat terpukul atas kejadian ini," ujar Umar Chusaeni, Ketua Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI), Selasa (15/1/2013).

Menurut Umar, kasus serupa pernah terjadi pada 2005 dan 2010 silam. Kejadian yang berulangkali itu mengindikasikan bahwa ada keterlibatan "orang dalam" yang tentu tidak asing bagi keluarga almarhum Haji Widayat.

"Kejadian ini semestinya tidak terulang lagi, sebab bukan tidak mungkin akan menghancurkan keberadaan museum itu sendiri. Jika museum hancur, itu artinya keluarga tidak bisa menjaga amanah dari almarhum H Widayat," kata Umar geram.

Keberadaan museum itu, lanjut Umar, bukan hanya milik keluarga saja, tapi sudah menjadi milik masyarakat dan bangsa ini. "Museum itu merupakan tempat edukasi bagi masyarakat, terutama seniman rupa di Indonesia," kata Umar yang juga seorang pelukis itu.

Apalagi, di dalam museum itu terdapat lukisan karya seniman besar yang merupakan salah satu dari 5 maestro lukis yang ada di Indonesia, seperti H Widayat sendiri, Affandi, Indra Gunawan, Sudjoyono dan Sudibyo.

Umar menuturkan, tidak semua seniman di Indonesia sehebat H Widayat yang bisa menciptakan lukisan beraliran dekoratif magis. "H Widayat itu seniman yang sangat luar biasa. Semasa hidupnya hanya mendedikasikan diri untuk seni rupa Indonesia. Beliau sangat menginsiprasi seniman-seniman muda," ujar Umar.

Meski keberadaan museum itu milik keluarga, lanjut Umar, namun pemerintah sebaiknya juga ikut bertanggung jawab untuk kelangsungan museum tersebut.  Pemerintah perlu membuat peraturan yang jelas tentang kepemilikan museum dan semacamnya. Harus ada standar undang-undang terkait museum, agar jangan sampai pengelolaannya rancu dan UU-nya tidak jelas. 

"Sejauh ini belum ada keterlibatan pemerintah dalam menjaga keberadaan museum tersebut, minimal ikut mendata jumlah lukisan di dalamnya dan karya siapa saja yang terpajang di sana," tuturnya.

Ia memberikan contoh museum Affandi di Yogyakarta, karena tidak ada ikut campur dari pemerintah, sehingga keluarga dengan seenaknya memperjualbelikan karya maestro tersebut. Akibatnya, keberadaan museum itu untuk saat ini sudah diambang kehancuran.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.