Kompas.com - 21/12/2012, 14:44 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Dataran tinggi Ijen selalu memesona, sehingga banyak orang menuju ke sana untuk mendapatkan kepuasan hati. Menikmati pemandangan alamnya pada siang hari, tentu sudah biasa dilakukan, sehingga sesekali perlu dicoba untuk mendapatkan sensasi pemandangannya pada malam hari.

Pendakian malam hari dapat dimulai sekitar pukul 00.00. Jalur pendakian pada gunung setinggi 2.443 mdpl itu tidak berbeda dengan jalur yang digunakan untuk mendaki pada siang hari.

Titik awalnya juga melalui pos Paltuding atau pos terakhir dimana kendaraan harus parkir. Akses menuju Paltuding ini dapat ditempuh dari dua jalur, yaitu jalur utara melalui Bondowoso yang berjarak sekitar 63 km, dan jalur selatan melalui Banyuwangi yang lebih pendek jaraknya, yaitu sekitar 39 km, dan mempunyai akses jalan yang cukup bagus.

Paltuding merupakan kesempatan terakhir untuk melakukan pengecekan segala kebutuhan selama pendakian. Perlengkapan yang wajib dibawa adalah jaket tebal, sarung tangan, sepatu ket, serta penutup kepala karena puncak Ijen cukup dingin.

Masker juga menjadi perlengkapan penting karena bau belerang akan sangat menyengat. Satu lagi yang wajib dibawa adalah lampu senter. Saat di Paltuding itupula merupakan kesempatan melengkapi bekal ransum. Makanan dan minuman ringan dapat dibeli di warung yang ada di areal pos yang terintegral antara penginapan, fasilitas kamar mandi umum, serta tempat berkumpulnya para pemandu itu.

Membekali diri dengan jas hujan akan cukup membantu, terutama jika mendaki diluar musim kemarau seperti saat ini. Pendakian dari Paltuding menuju kawah Ijen akan menempuh jarak sekitar 3,3 km atau setara 2 jam dengan ritme jalan kaki yang santai.

Pada satu jam pertama pendakian, jalur tersebut mempunyai kemiringan yang cukup menanjak sehingga harus pandai menghemat tenaga. Membawa tongkat akan lumayan membantu pembatasan keluarnya energi. Setelah itu jalur akan cukup landai hingga menuju puncak kawahnya.

Medan awal pendakian berupa tanah yang bercampur pasir kasar. Pada pertengahan jalur, akan mulai menemukan medan bebatuan, dan areal kawah adalah jalur berbatu. Di sepanjang jalur sesekali akan berpapasan dengan para penambang belerang, sebab jalur tersebut sekaligus merupakan jalur hilir mudik para penambang yang membawa belerang dari dasar kawah Ijen kek kaki gunung.

Pendakian pada malam hari tentu akan berbeda. Suasana malam membuat situasi tidak dapat terpantau sempurna. Pandangan mata hanya sebatas lampu senter menyorot, atau bantuan sinar rembulan jika purnama. Pendakian malam menuntut nyali dan kewaspadaan ekstra, terutama saat melintasi rimbunnya pepohonan atau jalur bebatuan.

Sensasi akan mulai terasa saat mencapai bibir kawah. Jika cuaca bersahabat, pendaki akan berkesempatan melihat pancaran warna biru atau yang biasa disebut blue flame yang terletak di dasar kawah. Blue flame yang berasal dari pembakaran belerang ini dapat dilihat dari dekat dengan cara turun ke kawah.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.