Kompas.com - 19/12/2012, 18:01 WIB
|
EditorKistyarini

KENDARI, KOMPAS.com - Sebuah pangkalan minyak tanah milik Alimuddin yang diduga mengoplos solar digerebek tim Satgas Pengawasan Penyediaan dan Pendistribusian BBM Bersubsidi Polri, Rabu (19/12/2012). Pangkalan minyak tanah itu terletak di komplek pelabuhan batu, Jalan Konggoasa, Kelurahan Sodohoa, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

Dari dalam gudang pangkalan minyak tanah, tim menemukan 68 drum berisi minyak tanah, solar. Tak hanya itu, tim satgas yang berasal dari Mabes Polri dan BPH Migas juga mendapatkan 33 jerigen berisi minyak tanah, oli dan tiga kendaraan roda empat yang digunakan untuk mengisi BBM tersebut.

Abdul Muhaemin, salah seorang anggota Tim Satgas mengatakan, pelaku mengumpulkan solar ke dalam drum dari hasil antrian kendaraannya di SPBU. "Drum yang berisi solar yang disimpan dalam gudang pangkalan minyak tanah, kemudian dicampur dengan minyak tanah dan ditambah oli dengan formula tertentu. Selanjutnya BBM jenis solar hasil oplosan dijual kembali dengan harga non subsidi yang dimuat dalam jerigen ukuran 35 liter," ungkap Muhaemin di Polsek Kemaraya Kendari, Rabu.

Solar hasil oplosan itu, kata Muhaemin, kemudian diangkut dengan kendaraan roda empat yang disiapkan untuk selanjutnya dijual ke kapal-kapal nelayan atau perusahaan yang membutuhkan dengan harga di atas Rp 7000 atau non subsidi.

Selain menahan pemilik dan sopir truk pangkalan minyak tanah, Tim Satgas juga menyita satu truk dan dua kendaraan roda empat yang biasa digunakan pelaku untuk mengantre dan menjual solar tersebut.

"Jadi truk itu digunakan pelaku untuk menyedot solar dari tangki kemudian ditadah dengan menggunakan baskom dan selanjutnya disimpan dalam drum. Sedangkan kendaraan jenis AVP dan Panther dipakai untuk mengakut solar oplosan ke konsumen," tutur Muhaemin.

Muhaemin menambahkan, Satgas akan menyerahkan kasus ini ke penyidik Polsek Kemaraya Kendari untuk diproses lebih lanjut. "Kami serahkan penyelidikan kasus ini ke penyidik Polsek Kemaraya. Pelaku telah melanggar pasal 54 dan 55 UU nomor 22 tahun 2012 tentang migas, karena telah melakukan penyalagunaan niaga BBM bersubsidi, ancaman hukumannya di atas lima tahun penjara," tandasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.