Kompas.com - 19/12/2012, 00:56 WIB
|
EditorAgus Mulyadi

GROBOGAN, KOMPAS.com — Ingin melihat lebih dekat seperti apa produksi tanaman kedelai di Kabupaten Grobogan, Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih, Selasa (18/12/2012), meninjau sentra pertanian kedelai di Desa Panunggalan, Kecamatan Pulo Kulon, Grobogan. Di desa itu, Rustriningsih menyaksikan tanaman kedelai lokal yang kini diakui sebagai kedelai varietas unggulan nasional.

Didampingi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan Edhie Sudaryanto, Rustriningsih menyusuri lahan kedelai Kelompok Tani Kabul Lestari Desa Panunggalan.

Di lahan tersebut terlihat hamparan tanaman kedelai yang tinggal sekitar sepekan lagi siap dipanen.

Kedelai yang diproduksi di Grobogan itu, menurut Edhie Sudaryanto, memiliki keistimewaan dibandingkan dengan kedelai lainnya. Selain memiliki umur pendek karena bisa dipanen dalam waktu 76 hari, jumlah polong dalam satu tanaman kedelai bisa mencapai 50-90 polong.

"Tanaman kedelai ini otomatis menggugurkan daun menjelang panen. Daun yang rontok bisa jadi humus dan proses panen dan pascapanen lebih ringan," paparnya.

Di samping itu, ukuran kedelai yang dihasilkan besar, seimbang dengan kedelai impor, dan kandungan proteinnya tinggi. Untuk industri pembuatan tempe, daya bengkaknya tinggi karena bisa menyerap air lebih banyak dan mengembang.

Ketua dan Sekretaris Kelompok Tani Kabul Lestari, Dul Karim dan Ali Muchtar, pun mencabut beberapa pohon kedelai yang siap dipanen dan menunjukkan kelebihan-kelebihan dari tanaman kedelai di desa itu kepada Rustriningsih.

Seusai turun ke ladang palawija tersebut, Rustriningsih dan Edhie, didampingi Camat Pulo Kulon Basuki Mulyono, berdialog dengan anggota Kelompok Tani Kabul Lestari. Kepada Rustriningsih, petani menyampaikan bagaimana pertanian kedelai, jagung, dan padi di desa itu.

Petani secara khusus meminta pemerintah memberikan perhatian soal harga kedelai. Selama ini, ketika selesai panen, harga kedelai petani anjlok ke harga paling rendah sehingga merugikan petani. "Harga kedelai pernah sampai Rp 2.000 per kilogram. Kami mohon pemerintah menjamin harga kedelai dengan harga pembelian pemerintah," ujar Ali Muchtar.

Menurut Edhie, harga ideal kedelai Rp 7.000-Rp 7.500 per kilogram. Dengan harga tersebut, petani tidak merugi dan akan tetap setia menanam kedelai. "Kalau harga tidak pernah pasti, petani bisa beralih ke tanaman lain yang lebih menguntungkan. Ini yang harus kita jaga," tutur Edhie.

Hal yang sama ditegaskan Rustriningsih. "Saya datang ke sini untuk mengetahui lebih jauh tentang pertanian kedelai di daerah ini. Ini akan menjadi masukan saya, bagaimana agar ketahanan pangan di desa ini bisa diikuti daerah-daerah yang lain," katanya.

Menurut Edhie, panen raya kedelai di Grobogan mulai berlangsung akhir Desember ini, di lahan sekitar seluas 26.000 hektar. Selain di Kecamatan Panunggalan, sentra kedelai juga terdapat di Kecamatan Wirosari, Kradenan, dan Toroh. Sebanyak 90.000 warga Grobogan menjadi petani kedelai.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.