Kompas.com - 09/12/2012, 22:45 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Sebanyak 11 desainer muda, yang juga alumni Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo, mulai 23 November sampai 25 Desember ini berkesempatan menjual koleksi busananya di Metro Department Store. Tentu ini menjadi kesempatan langka, karena Metro tentu tidak sembarangan dalam memilih tenant-nya.

Karena keterbatasan tempat, tentunya tidak semua alumni bisa memajang dan menjual karyanya di Metro Plaza Senayan dan Metro Pondok Indah Mall. Selain itu, belum semua alumni memiliki kesiapan untuk memproduksi busana dengan kapasitas yang ditentukan Metro, sekalipun jumlahnya sebenarnya tidak terlalu banyak (masing-masing desainer harus menyediakan 50 outfit).

Menurut Anskarina Christin, Asisten General Manager Marketing Metro Department Store, kesempatan ini sebenarnya ditawarkan untuk seluruh alumni LPTB.

"Tetapi, semuanya kembali kepada alumni, apakah mereka mau mencoba atau tidak. Kami memberi wahana untuk melakukan bisnis secara langsung di lapangan. Kalau mereka give up karena jualannya tidak berhasil, itu juga keputusan mereka sendiri nantinya. Ini kesempatan bagi mereka untuk membuktikan apakah mereka mau maju atau tidak," katanya, saat konferensi pers di Plaza Senayan, Sabtu (8/12/2012) lalu.

Kesempatan seperti ini memang tidak selayaknya tidak disia-siakan. Susan Budihardjo sebagai pemilik LPTB sendiri menegaskan, hasil karya para lulusannya tidak kalah dengan para pesaingnya, terutama produk luar negeri. Hanya saja, para desainer memang sering terhambat akibat keterbatasan material busana.

"Prinsip usaha yang dijalankan perusahaan ritel yang sudah bertahan selama 21 tahun ini diharapkan bisa menjadi role model bagi para lulusan kami untuk mengadaptasinya," ujar perancang senior yang telah meluluskan desainer papan atas seperti Sebastian Gunawan, Didi Budiarjo, dan Denny Wirawan ini, dalam siaran persnya.

Unjuk karya di Metro tentu akan menjadi pembelajaran sesungguhnya bagi desainer muda. Dengan bergabung di department store terkemuka ini, para desainer bisa memperdalam ilmu bisnisnya. Hanya saja, seperti diutarakan Anskarina, mereka harus lebih dulu mengetahui siapa pangsa pasar koleksi mereka. Hal ini masih menjadi persoalan klasik para desainer muda, padahal itulah salah satu syarat supaya dapat bertahan dan diterima di bisnis fashion.

Selain harus memelajari pangsa pasarnya, para desainer juga harus mempunyai strategi untuk memasarkan produk agar karya mereka tepat sasaran. Desainer masih sering melalaikan masalah ini, sehingga calon pembeli tidak memperoleh informasi mengenai produk yang mereka hasilkan.

Sebagai bentuk dukungannya, Metro juga memfasilitasi para alumni ketika harus melakukannya secara langsung di dunia nyata. Misalnya, bagaimana suatu strategi penjualan dan pemasaran dapat berjalan dengan baik. Selain itu, mengedukasi para desainer dalam memproduksi barang dengan kualitas baik dan tepat waktu, serta selalu up to date akan perubahan tren. Dengan demikian, desainer selalu mampu menangkap kebutuhan pasar saat terjadi perubahan tren tersebut. Itulah prinsip-prinsip yang mendasari bisnis Metro sehingga dapat bertahan sampai sekarang.

Program ini sangat membantu para desainer muda, yang saat ini memang menghadapi persaingan yang ketat dengan banyak brand yang lebih dulu muncul. Menurut Susan, banyaknya brand di pasaran kerap menyulitkan desainer baru untuk mengidentifikasi pangsa pasar, sehingga strategi yang disusun pun kurang tepat, dan menyebabkan hasil karya mereka kurang maksimal.

Para alumni menyatakan kegembiraannya karena mendapat kesempatan langka ini. "Sebelumnya brand Anaz itu hanya made by order dari klien. Jadi, dengan kesempatan ini saya jadi mendapat pengalaman yang berbeda, bagaimanan menyiapkan produk untuk department store," ungkap Anaz Khairunnas, alumni LPTB 2008 yang sebelumnya sudah tampil di Jakarta Fashion Week 2013.

"Kalau saya dari awal ingin masuk jalur ready to wear. Jadi, kesempatan ini harus dimanfaatkan dengan maksimal," timpal Ratih Atindriya, pemilik label Raya yang juga alumni 2010.

Baik Metro, LPTB, maupun alumni tentu berharap para desainer lebih siap memasuki industri fashion setelah program ini selesai. "Kami ingin menjadikan mereka businessman baru, dan pastinya program ini akan berkelanjutan. Karena tanpa dukungan komunitas, desainer baru tidak bisa apa-apa," tegas Anskarina.

Baca juga: Koleksi Alumni Sekolah Mode di Metro Dept-Store

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan Video Lainnya >

27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.