Panjang Cuma 3 Cm, Hewan Ini Punya 750 Kaki

Kompas.com - 16/11/2012, 09:40 WIB
|
Editoryunan

CALIFORNIA, KOMPAS.com — Ilmuwan menemukan spesies baru kaki seribu (Milipede). Hanya punya panjang tubuh 1-3 cm, kaki hewan ini mencapai 750 buah! Spesies yang dinamai lllacme plenipes, yang berarti "dianugerahi kaki yang melimpah", itu lalu dinobatkan sebagai hewan dengan kaki terbanyak.

"Hewan ini seperti benang. Sekilas, dia punya tampilan luar yang tak menarik. Namun, setelah kami melihatnya dengan SEM (mikroskop elektron) dan mikroskop cahaya, kami menemukan bahwa dia punya anatomi kompleks," kata Paul Marek, peneliti post-doktoral di University of Arizona yang memimpin studi ini.

Bukan cuma jumlah kaki yang membuat hewan ini luar biasa. Peneliti menemukan bahwa hewan ini punya mulut tidak sempurna yang fungsinya juga belum diketahui. Selain itu, lllacme plenipes juga punya organ di belakang tubuh yang mampu menghasilkan struktur benang serupa sutra.

Penemuan spesies ini dimulai dari temuan kembali spesies kaki seribu pada tahun 2006, jenis yang sebelumnya pernah ditemukan tahun 1928. Ilmuwan kemudian mulai mengoleksi spesimen lllacme plenipes dari wilayah hutan oak di Oakland dan Berkeley.

Sejumlah 17 spesimen didapatkan. Koleksi spesimen dihentikan pada tahun 2007. Berdasarkan survei, ilmuwan menduga bahwa spesies ini langka. Setelah spesimen didapatkan, ilmuwan mulai melakukan analisis morfologi dan genetik.

Dari studi genetik yang dilakukan, ilmuwan berhasil mengidentifikasi gen bernama cytochrome c oxidase I. Gen ini bisa berfungsi sebagai marka genetik sehingga akan membantu ilmuwan membedakan jenis lllacme plenipes dan lainnya.

Ilmuwan menduga bahwa kaki seribu memiliki kerabat yang hidup di Afrika Selatan. Kaki seribu itu diduga hidup sejak 200 juta tahun lalu saat daratan Afrika Selatan dan California masih tergabung dalam satu benua yang disebut Pangaea.

Sebagai spesies baru, lllacme plenipes menghadapi banyak ancaman. Pembangunan merusak habitat dari spesies ini. Sementara perubahan iklim menguapkan kabut yang menjaga habitat jenis ini tetap lembab. lllacme plenipes terancam punah bila tak dijaga.

"Kita belum mengetahui banyak tentang biologi organisme ini. Jadi, kepunahannya sebelum kita sempat memahami perannya di lingkungan, atau bahkan apa yang mereka bisa sumbangkan bagi kemanusiaan adalah memalukan," kata Marek seperti dikutip Livescience, Rabu (14/11/2012).

Marek menduga, spesies ini juga hidup di wilayah tropis. Penelitian kini sedang dilakukan. Penemuan spesies ini dipublikasikan di jurnal Zookeys Rabu lalu.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

BKSDA Yogyakarta Lepasliarkan 1.000 Ekor Tukik di Pantai Trisik Kulon Progo

BKSDA Yogyakarta Lepasliarkan 1.000 Ekor Tukik di Pantai Trisik Kulon Progo

Regional
Kasus Covid-19 Kota Tegal Capai 1.043, 49 di Antaranya Meninggal Dunia

Kasus Covid-19 Kota Tegal Capai 1.043, 49 di Antaranya Meninggal Dunia

Regional
Unggah Program Salah Satu Paslon di Twitter, KPU Sleman Dilaporkan Bawaslu ke DKPP

Unggah Program Salah Satu Paslon di Twitter, KPU Sleman Dilaporkan Bawaslu ke DKPP

Regional
Debat Pilkada Pandeglang, Thoni Ingin Buka Pendopo untuk Rakyat, Irna Ngantor di Desa

Debat Pilkada Pandeglang, Thoni Ingin Buka Pendopo untuk Rakyat, Irna Ngantor di Desa

Regional
Heboh Video Porno ABG di Medsos, Pelaku Raup Rp 8 Juta Setiap Beraksi

Heboh Video Porno ABG di Medsos, Pelaku Raup Rp 8 Juta Setiap Beraksi

Regional
Bocah SD Hanyut di Sungai Saat Mandi, Jasadnya Ditemukan hingga 4 Kilometer

Bocah SD Hanyut di Sungai Saat Mandi, Jasadnya Ditemukan hingga 4 Kilometer

Regional
Gelar Sekolah Tatap Muka, Pemkot Solo Tunggu Izin Orangtua

Gelar Sekolah Tatap Muka, Pemkot Solo Tunggu Izin Orangtua

Regional
2 Pegawai BPR Nganjuk Terpapar Corona, Ini Gejala Awalnya

2 Pegawai BPR Nganjuk Terpapar Corona, Ini Gejala Awalnya

Regional
Pegawainya Positif Covid-19, 2 Kantor Pemerintahan di Kulon Progo Ditutup

Pegawainya Positif Covid-19, 2 Kantor Pemerintahan di Kulon Progo Ditutup

Regional
Seorang Pelajar di Yogyakarta Tertular Covid-19 di Sekolah

Seorang Pelajar di Yogyakarta Tertular Covid-19 di Sekolah

Regional
Gus Ipul Terserang Covid-19, Istri dan 3 Anaknya Masuk Rumah Sakit

Gus Ipul Terserang Covid-19, Istri dan 3 Anaknya Masuk Rumah Sakit

Regional
Hujan Sejak Siang, Kota Padang Digenangi Banjir hingga 50 Cm

Hujan Sejak Siang, Kota Padang Digenangi Banjir hingga 50 Cm

Regional
Pemkot Mataram Tertibkan Baliho Rizieq Shihab, Satu Belum Dicopot karena Ada Penolakan

Pemkot Mataram Tertibkan Baliho Rizieq Shihab, Satu Belum Dicopot karena Ada Penolakan

Regional
Modus Kades Merangin Korupsi Dana Desa Rp 339 Juta, Cairkan Uang tapi Proyeknya Mangkrak

Modus Kades Merangin Korupsi Dana Desa Rp 339 Juta, Cairkan Uang tapi Proyeknya Mangkrak

Regional
Kisah Guru Honorer Rini, Rumah Terbakar dan Nyambi Mulung Sawit, Tetap Ikhlas Mengajar

Kisah Guru Honorer Rini, Rumah Terbakar dan Nyambi Mulung Sawit, Tetap Ikhlas Mengajar

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X