Kompas.com - 07/11/2012, 17:39 WIB
EditorDini

KOMPAS.com - Apresiasi dan antusiasme terhadap dunia mode semakin tinggi dengan berlangsungnya berbagai ajang mode, tak terkecuali Indonesia Fashion Week (IFW). Melalui berbagai cara, memasuki tahun kedua nanti Indonesia Fashion Week (IFW) 2013 kembali mengajak tak hanya pecinta mode, namun juga pelaku industri kreatif dari berbagai lapisan untuk turut andil mengembangkan mode di Indonesia untuk mendunia. Salah satunya mempopulerkan produk lokal yang berpotensi menjadi tren mode dengan mengadakan Sarung Mob pada 22-24 November 2012.

Rangkaian aktivitas jelang IFW 2013 (14-17 Februari 2013) mulai dilakukan untuk mendukung misi pemerintah dalam menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat mode dunia pada 2025. Untuk dikenal sebagai pusat mode dunia, Indonesia harus tampil beda mengusung kekayaan budaya lokal.

"Indonesia ingin menjadi salah satu pusat mode, tidak mengacu pada Paris, London, tetapi mengacu pada ketimuran dengan gaya internasional. Rasanya keinginan ini tidak muluk karena kita bisa maju kalau standarnya tinggi. Jika orang datang ke London mencari street wear, ke Paris mencari busana couture, lalu ke Indonesia, orang akan cari apa? Indonesia harus punya budaya sendiri," jelas Ali Charisma, President Director IFW 2013 saat gathering "Pelaku Industri Kreatif Fesyen" di Balairung Soesilo Gedung Sapta Pesona, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, sarung menjadi salah satu produk budaya yang bisa dikembangkan menjadi produk mode. Sarung, dengan pengembangan yang tepat dan dicintai juga dipakai dengan cara kreatif oleh masyarakat Indonesia, juga bisa menjadi bagian dari tren mode, pembeda Indonesia dengan negara lainnya.

IFW mengusung gerakan mempopulerkan sarung ini melalui berbagai langkah. Jika sebelumnya, tepatnya Oktober 2012 berlangsung lomba sarung di Museum Tekstil, kini gerakan yang lebih sensasional sengaja digelar untuk meningkatkan perhatian dan apresiasi terhadap sarung.

"Tujuannya mempopulerkan sarung ke dunia. Tak ada yang salah dengan cara mengkreasikan sarung, cara memakainya. Bisa sarung berbahan denim, busana kulit tapi berbentuk sarung, atau sarung asli digunakan sebagai busana siap pakai. Memang ada kriteria tertentu mengenai sarung. Tapi kita mau mempopulerkan sarung. Yang diharapkan ada dampak dari segi kreativitas juga bisnis, bukan sekadar kegiatan yang heboh tanpa maksud," papar Ali.

Gerakan sosialisasi sarung inisiasi IFW ini mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Untuk mengangkat pamor sarung, dan memberikan inspirasi gaya urban kontemporer menggunakan sarung yang sesuai kebutuhan kalangan muda dalam berbusana, Sarung Mob dilakukan di salah satu kegiatan Kemenparekraf.

Sarung Mob akan memeriahkan Pekan Produk Kreatif Indonesia atau PPKI (program Kemenparekraf) yang berlangsung 21-25 November 2012 di Rasuna Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta.

"Sarung Mob ini terbuka untuk umum, namun memang kami melatih sekitar 300 orang untuk menguasai gerakan dan mengkreasikan sarung dengan gaya berbeda. Tapi nantinya, siapa pun boleh terlibat mengikuti Sarung Mob yang berlangsung sekitar satu jam. Jadi siapa pun boleh membawa sarung apa saja, kreasikan dengan gaya apa pun, dan bergabung dengan kami," jelas Ali kepada Kompas Female.

Sarung Mob di ajang PPKI terbagi dalam tiga periode waktu. Sarung Mob yang menargetkan 300 bahkan lebih peserta terbagi dalam tiga grip, berlangsung 22 November 2012. Namun pada tanggal 23 dan 24 akan digelar kembali Sarung Mob dengan koreografi berbeda dan peserta yang tak sama besar jumlahnya seperti pada acara puncak, 22 November.

Ali berharap, saat Sarung Mob berlangsung, sarung dapat ditampilkan dengan ragam kreasi. Bisa sarung sebagai street wear, cocktail dress, seragam dari sarung, dan lainnya. Dengan begitu masyarakat dan pelaku industri fashion mendapatkan inspirasi darinya. Langkah awal mempopulerkan sarung ini pun pada akhirnya bisa membawa dampak dan membuka peluang bisnis mode baru.

Harapannya, ide baru dan segar lahir dari produk lokal, dari sarung yang bisa ditemui di berbagai daerah di Indonesia, dengan keberagaman motif dan warnanya.

"Sarung bisa saja menjadi tren 2013. Jika ingin menjadi pusat mode, kita harus menerjemahkannya menjadi pusat inspirasi, karena kita punya kekayaan lokal yang bisa dikembangkan. Kita bisa menggodok tema baru terinspirasi dari kekayaan lokal, termasuk dari sarung," tutupnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan Video Lainnya >

27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.