Kompas.com - 02/11/2012, 12:38 WIB
|
EditorMarcus Suprihadi

BANJARNEGARA, KOMPAS.com — Pemugaran Candi Bima di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, sudah melalui kajian arkeologis. Jika tidak dipugar, dikhawatirkan kerusakan candi yang dibangun pada abad kedelapan tersebut bertambah parah.

Kepala Seksi Pelestarian dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah Gutomo, Jumat (2/11/2012), mengatakan, pembongkaran candi Bima dilakukan setelah diketahui terdapat rongga dengan diameter sekitar dua meter yang menyebabkan posisi candi ambles.

"Jika tidak dibongkar, kemungkinan posisi candi akan bertambah miring karena fondasi bangunan tak kuat menahan beban," ujarnya.

Pembongkaran Candi Bima kemungkinan selesai akhir tahun 2012. Setelah itu akan dikaji langkah-langkah penguatan struktur landasan candi yang kini rapuh.

Kompleks candi di Dieng sejarahnya dibangun di atas kawah mati yang dulunya terisi air. Bahkan, ada pendapat bahwa pendirian candi dilakukan dengan proses pengeringan terlebih dahulu.

Khusus candi Bima dibangun pada bukit yang dipotong, sedangkan lokasi candi berada di cekungan lahan.

Tanah di bawah candi dibentuk dari batuan piroklastik yang tidak meloloskan air. Hujan yang terus-menerus menjadikan lapisan tanah ini jenuh dengan air dan berat. Beban candi dan batuan piroklastik ini mendesak lapisan tanah di bawahnya. Hal ini yang menyebabkan Candi Bima ambles.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X