Kompas.com - 29/10/2012, 11:55 WIB
EditorI Made Asdhiana

Nama Habema sendiri diambil dari seorang perwira detasemen militer Belanda, Letnan D Habbema, yang mengawal ekspedisi pimpinan HA Lorentz di kawasan tersebut tahun 1909. Ekspedisi itu bertujuan mencapai Puncak Trikora atau yang dulu disebut Puncak Wilhelmina. Gunung ini menjadi menarik karena atapnya tertutup salju meski berada di daerah tropis.

Marc Argeloo dalam buku Land of the Birds of Paradise (2012) menuliskan, meski tak berhasil mencapai puncak, Lorentz sukses menginjakkan kaki di kawasan bersalju gunung tersebut pada ketinggian 4.461 mdpl, November 1909. Puncak Trikora sendiri berketinggian 4.730 mdpl.

Namun, pencapaian itu harus dibayar dengan pengorbanan besar. Selama ekspedisi, tiga porter dan seorang tentara tewas kelelahan dan kekurangan makanan. Lorentz sendiri menderita patah rusuk akibat terjatuh saat menuruni gunung.

Kini, salju Trikora sudah lama menghilang yang ditengarai akibat pemanasan global bumi. ”Dulu juga masih ada hujan butiran es di Habema, tapi 4-5 tahun terakhir ini sudah tak ada lagi,” kata Jimmi.

Kekayaan hayati

Meski demikian, kawasan di sekitar Danau Habema masih menyimpan keunikan keanekaragaman hayati. Padang di sekeliling danau ditumbuhi berbagai tanaman yang hanya bisa ditemukan pada iklim dataran tinggi, seperti pakis palem (Cycas sp), pohon sage (Nothofagus), edelweis (Leontopodium alpinum), dan berbagai jenis lumut gunung.

Mathieu (28) dan Armelle (29), pasangan turis asal Perancis yang turut serta dalam perjalanan, terpukau melihat lanskap pegunungan dan vegetasi yang hidup di sekitar Danau Habema. ”Suasananya mirip di selatan Perancis,” ujar Mathieu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain vegetasi, berbagai jenis satwa juga terlihat di Habema. Di antaranya, sekawanan bebek liar (Anas platyrhynchos) yang tengah bermain-main di permukaan danau dan tiga ekor puyuh salju (Anurophasis monorthonyx) saat mereka berjalan menuju semak-semak lebat yang tumbuh di tebing gunung.

Perjumpaan dengan puyuh salju itu bisa dibilang istimewa. Inilah satwa endemis pegunungan tengah Papua yang hanya hidup di ketinggian 3.000-4.200 mdpl. Lembaga International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkannya dalam kategori ”nyaris terancam punah” karena populasinya yang menurun.

Namun, ada beberapa satwa unik yang dulu sering ditemukan di sekitar Habema, tapi kini sudah sulit sekali terlihat. Program Manager Lorentz WWF Indonesia Petrus A Dewantoro, mengatakan, wilayah Habema juga dulunya merupakan habitat kanguru pohon (Dendrolagus sp). ”Sekarang hewan itu sudah sulit sekali ditemui,” katanya.

Halaman:


25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X