Eloknya Nagari Tuo Pariangan

Kompas.com - 23/10/2012, 03:26 WIB
Editor

Oleh Ingki Rinaldi

Kabupaten Tanah Datar di Sumatera Barat tengah menghelat promosi pariwisata yang obyeknya relatif bervariasi, mencakup atraksi budaya, peninggalan sejarah, produk budaya, ragam kuliner, dan panorama alam. Namun, berkunjung ke Tanah Datar tidak lengkap tanpa menelusuri Nagari Tuo Pariangan.

Daerah yang terletak di kaki Gunung Marapi tersebut berdasarkan tambo atau cerita rakyat dipercaya luas sebagai asal-usul orang Minangkabau. Dalam tambo yang tersimpan di nagari itu, Wali Nagari Tuo Pariangan April Khatib Saidi meyakini asal-usul orang Minangkabau berasal dari keturunan Iskandar Zulkarnain.

Iskandar Zulkarnain adalah seorang penguasa dengan wilayah kekuasaan yang membentang dari belahan bumi bagian barat hingga timur yang hidup pada ribuan tahun lalu.

Mitos tentang kehebatan Iskandar ini membuat banyak penguasa dalam berbagai kebudayaan mengaitkan asal-usulnya dengan kisah tersebut. Dalam versi tambo Minang, April menyebutkan awalnya Sultan Iskandar memiliki tiga anak, yakni Sultan Suri Maharajo Dirajo, Sultan Maharajo Alif, dan Sultan Maharajo Depang yang merantau ke negeri seberang.

Di tengah jalan ketiganya berpisah, dan tinggal Sultan Suri Maharajo Dirajo bersama pengikutnya yang berlayar hingga tiba di kawasan Gunung Marapi. Goa-goa tempat tinggal yang berupa ruangan akhirnya disebut ”Paruangan” hingga kemudian menjadi ”Nagari Pariangan”.

Nagari riang

Adapun nama Pariangan disebutkan berasal dari keriangan yang didapat tatkala penduduk nagari berhasil menjerat rusa untuk dimakan. Keriangan itu juga masih tampak ketika menyusuri wilayah nagari yang memiliki mata air panas alami itu.

Tempat pemandian berupa pancuran air panas didirikan di dekat Masjid Ishlah yang berarsitektur tradisional. Tempat mandi dengan pemisahan ruang bagi laki-laki dan perempuan itu memiliki dua pancuran di setiap biliknya. Tersedia pancuran untuk air panas dan air dingin. Sensasi panas dan dinginnya tidak seberapa serta tidak sampai menyakiti kulit. Kucuran air yang sampai di kulit cenderung terasa hangat. Sejumlah warga menggunakan lokasi pemandian untuk keperluan sehari-hari. Sekalipun ada juga pengunjung yang penasaran mencoba.

”Ada juga pengunjung dari Pekanbaru, Jakarta, dan daerah lain di Sumbar yang datang mandi di sini,” kata Rahmat Hidayat, warga setempat.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.