Hujan Buatan Diperpanjang

Kompas.com - 04/10/2012, 03:08 WIB
Editor

Palangkaraya, Kompas - Pelaksanaan hujan buatan di Kalimantan Tengah yang dimulai 28 Agustus akan berlanjut hingga 18 Oktober, saat puncak peringatan Hari Pangan Dunia tingkat nasional. Selain kabut asap yang sering muncul, hujan buatan diperpanjang karena acara itu akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Koordinator Pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) Budi Harsoyo di Palangkaraya, Kalteng, Rabu (3/10), mengatakan, sesuai rencana awal, hujan buatan akan berlangsung hingga 6 Oktober. Namun diperpanjang mengingat peringatan hari pangan itu membutuhkan kondisi udara yang bebas dari kepulan asap pekat.

”Selain Presiden, turut hadir beberapa menteri terkait serta sekitar 85 duta besar negara sahabat,” jelasnya.

Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin mengatakan, saat ini sudah membutuhkan adanya hujan buatan akibat kabut yang semakin pekat di beberapa lokasi. Bahkan, menurut Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel, Rachmadi Kurdi, kabut asap tahun ini lebih parah dibandingkan dengan tahun lalu. Tahun lalu, gangguan kabut asap terhadap penerbangan di Bandara Syamsudin Noor tidak semasif tahun ini yang terjadi hampir setiap pagi, meski tahun 2011 jumlah titik api tersebar di 900 lokasi.

Pada tahun 2012, hingga awal Oktober, jumlah titik api mencapai 700 lokasi. Dari jumlah itu, yang sudah terbakar mencapai 10 persen. Daerah yang terbakar ada di Kabupaten Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kota Baru.

”Yang terbakar lahan kering akibat lama tidak hujan. Pemicunya akibat alam maupun kelalaian, seperti orang membakar rumput dan kebun yang kemudian apinya merembet ke tempat lain,” ucapnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kalsel Ngadimun mengatakan, memberi keleluasaan bagi sekolah untuk meliburkan kegiatan belajar apabila kabut asap dirasa sudah cukup mengganggu.

”Sekolah-sekolah di daerah rawan kabut asap, kami pertimbangkan untuk bisa diliburkan apabila kabut asapnya membahayakan siswa,” ujarnya.

Habiskan anggrek

Cagar Alam Dusun Besar di Kota Bengkulu terbakar. Api yang membakar 56,2 hektar dari total CADB seluas 577 hektar tersebut menghancurkan habitat anggrek pensil dan kantung semar yang termasuk flora dilindungi.

Kebakaran terjadi sejak Senin (1/10) sore hingga malam. Pada Selasa (2/10) pagi, kebakaran pada lahan gambut itu terhenti. ”Untuk sementara, kebakaran sudah berhenti. Tim di lapangan tidak menemukan lagi asap dari gambut,” ujar Anggoro Dwi Sujiarto, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu.

Menurut Anggoro, petugas di lapangan kesulitan memadamkan api karena kendaraan pemadam tidak bisa mendekati lokasi kebakaran. Petugas juga kesulitan mencegah api meluas. Beruntung angin bertiup ke arah Danau Dendam Tak Sudah sehingga mengarahkan api untuk tidak membakar cagar alam lebih luas lagi. Pada 28 September 2012, terdapat 15 titik api di Provinsi Bengkulu. (BAY/WER/ADH)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.