Kompas.com - 24/09/2012, 20:22 WIB
|
EditorFarid Assifa

SAMPANG, KOMPAS.com - Pengungsi Syiah asal Desa Karang Gayam dan Desa Bluuran, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, sudah sebulan tinggal di penampungan di gedung tenis indoor pasca-kerusuhan 24 Agustus 2012 lalu. Tak banyak perkembangan yang dialami mereka, terutama soal tempat tinggal yang mereka tuju.

Beberapa tawaran pemerintah seperti pemindahan sementara ke rumah susun (rusun) di Sidoarjo, ditolak oleh warga. Relokasi ke wilayah lain serta pengembalian ke desanya juga belum ada tanda-tanda keseriusan dari pihak pemerintah.

Iklil Al Milal, adik kandung Tajul Muluk, pimpinan Syiah Sampang mengatakan, sampai saat ini belum ada kejelasan penanganan tempat tinggal warga Syiah. "Kami terus menunggu keputusan dari pemerintah dimana sampai saat ini belum ada kejelasan. Kami sudah jenuh tinggal di sini terus menerus," katanya, Senin (24/9/2012).

Satu keinginan yang mereka tunggu-tunggu adalah kembali ke tanah kelahirannya masing-masing. "Saya tidak paham mengapa keinginan kami untuk kembali ke kampung halaman tak juga dipenuhi oleh pemerintah," imbuh Iklil.

Di tempat terpisah, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sampang Rudi Setyiadi menjelaskan, pihaknya masih akan berkoordinasi dengan instansi lainnya untuk tawaran yang bisa diterima oleh warga Syiah.

"Saya masih cari waktu yang tepat untuk merapatkan opsi-opsi yang bisa memberikan solusi bagi mereka warga Syiah," terang Rudi.

Sementara jumlah pengungsi yang tinggal di penampungan terus berkurang. Data terakhir jumlah pengungsi mencapai 289 orang terdiri dari laki-laki, perempuan, anak-anak dan balita serta lanjut usia. Saat ini yang tersisa tinggal 201 orang. Pengungsi yang meninggalkan penampungan terdiri dari anak-anak yang melanjutkan pendidikannya ke luar kota dan ada pula yang tidak betah tinggal di penampungan.

"Coba Anda rasakan betapa jenuhnya berada di dalam penampungan seperti ini selama sebulan. Bahkan akan sebagian yang mengalami depresi dan keluar dari penampungan," ungkap Iklil. Bagi yang tidak betah, memilih ikut familinya di luar kota untuk hidup tenang.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, peristiwa kerusuhan antara penganut Syiah dan anti-Syiah di Kabupaten Sampang, merenggut satu korban jiwa bernama Hamamah dan 49 rumah penganut Syiah hangus dibakar. Tidak hanya itu, harta benda mereka juga dijarah. Satu di antara lima tersangka yang sudah ditetapkan oleh polisi adalah adik kandung Tajul Muluk, yakni Roisul Hulama dan sudah ditahan di Mapolda Jawa Timur.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X