Kompas.com - 12/09/2012, 09:59 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

KEFAMENANU, KOMPAS.com - Tak tersedianya fasilitas tempat tidur yang lengkap, khususnya bantal, di ruang kelas III Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur membuat setiap pasien yang masuk harus membawa bantal dari rumah.

"Kami terpaksa harus bawa bantal sendiri dari rumah. Di rumah sakit ini, khususnya di kelas III hanya di sediakan tempat tidur kosong saja. Padahal seharusnya dari pihak rumah sakit menyediakan fasilitas dengan lengkap, seperti bantal dan kain," kata Abdul Rahman, pasien kelas III, bangsal laki-laki, Selasa (11/9/2012) kemarin.

Hal yang sama juga disampaikan Margaretha Giri, keluarga salah satu pasien di bangsal yang sama. Ia mengatakan, kondisi tempat tidur tanpa bantal itu membuat pasien saat pertama masuk terpaksa memakai pakaian untuk mengalas kepala.

Selain itu, menurut Giri, adanya pelayanan dari beberapa oknum perawat yang kurang ramah pun menjadi masalah tersendiri di RS ini. "Baru-baru ini ada anak saya yang melahirkan di ruang bersalin. Karena sakit, terpaksa saya minta bantuan perawat dan dokter. Tetapi oleh perawat saya diusir keluar dengan nada kasar sambil membentak sehingga saya sempat menangis. Kami ini hanya sabar saja karena kami ini orang sederhana yang datang minta perlindungan di rumah sakit, sehingga apapun yang terjadi kami terima semua perlakuan itu," jelas Giri.

Terkait dengan keluhan itu, Direktur RSUD Kefamenanu Zakarias Fernandes mengakui kalau bantal di ruang kelas III memang tidak ada, karena banyak yang hilang.

"Kita bicara tentang hal Ini memang diakui untuk ruang kelas III agak riskan karena pada saat pasien pulang, bantalnya juga ikut dibawa tanpa sepengetahuan petugas. Khusus untuk ruang kelas III itu ada yang namanya dana Jamkesmas dan nantinya kita akan perbaiki untuk ruangan dan kelengkapannya sehingga dalam tahun ini kita akan buat pengadaan," jelas Fernandes.

Namun, berdasarkan pantauan Kompas.com, di ruang kelas III bangsal wanita dan laki-laki, di semua tempat tidur tidak disediakan bantal.

Selanjutnya, terkait pelayanan dari perawat yang terkesan kurang ramah, Fernandes tak membantahnya. "Diawal, saya masuk sebagai direktur tahun 2011 lalu, saya sudah berulang kali teriak untuk perbaiki soal pelayanan yang dimulai dengan senyum, sehingga saat ini kita sudah sepakati beberapa hal yang menjadi acuan dalam kerja yakni senyum, ramah dan tanggap," katanya.

"Di setiap ruangan dan bangsal, kita sudah sediakan kotak saran kepada setiap pasien agar mengisi nama perawat yang kasar atau berbuat salah, lengkap dengan keterangannya sehingga akan ditindaklanjuti, karena ada evaluasi untuk hal itu," sambung Fernandes.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.