Wisata Masih Ditutup

Kompas.com - 06/09/2012, 05:45 WIB
Editor

BANDUNG, KOMPAS - Taman Wisata Alam Tangkubanparahu hingga Rabu (5/9) masih ditutup bagi wisatawan. Pengelola obyek wisata dan pemerintah daerah menunggu rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi untuk membuka kembali bagi wisatawan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memasang spanduk di pintu masuk berisi pengumuman bahwa tempat tersebut ditutup sementara. Menurut Kepala BPBD Provinsi Jawa Barat Udjwalaprana Sigit, semua pihak sepakat menunggu rekomendasi PVMBG terkait pembukaan TWA Tangkubanparahu. Buka-tutup obyek wisata fleksibel bergantung pada kondisi di lapangan.

”Seluruh pihak, mulai dari pengelola hingga penjual, sepakat untuk tidak beraktivitas, pemerintah tidak harus memaksa mereka,” kata Sigit.

Dirut PT Graha Rani Putra Persada, Putra Kaban, mengaku segera berkoordinasi dengan PVMBG terkait kondisi di Kawah Ratu. Dia sempat bersikeras tetap buka TWA Tangkubanparahu karena belum menerima rekomendasi tertulis untuk ditutup.

Status Gunung Tangkubanparahu meningkat menjadi Waspada sejak 22 Agustus menyusul peningkatan aktivitas dari Kawah Ratu, satu dari sembilan kawah di puncak gunung. Status tersebut tidak diubah hingga kini meskipun TWA ditutup sementara.

Anak Krakatau tenang

Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda kembali tenang, Rabu (5/9). Namun, terjadi kebakaran hutan cemara di lereng gunung ini. Erupsi gunung berapi ini mengakibatkan berubahnya ekosistem pantai dan ribuan ikan mati. Tempat wisata ini masih tertutup bagi wisatawan dan masyarakat.

Kemarin, di kawasan GAK terlihat sejumlah peneliti asing, salah satunya dari Georesearch Volcanedo Jerman. Mereka berada di GAK sejak Minggu (2/9) untuk penelitian.

Menurut Edward Gramsch, peneliti dari Georesearch Volcanedo Jerman, aliran lava pijar dan sulfur telah mengubah ekosistem pantai, terutama di bagian selatan pulau GAK. Air pantai di daerah ini terlihat biru kekuning-kuningan, bahkan kemerahan. Suhu air sempat meninggi hingga 80 derajat celsius sehingga mengakibatkan ribuan ikan dan biota laut mati.

Warga yang tinggal di tiga dusun dalam kawasan rawan bencana Gunung Merapi masih tetap bertahan untuk tidak pindah ke daerah aman. Meski demikian, mereka siap mengungsi jika Merapi akan meletus.

”Teknologi sekarang sudah maju pesat, ada HT (handy talkie), ada radio, ada televisi juga sehingga kami bisa memantau dan mengetahui kondisi Merapi sewaktu-waktu. Warga di sini kalau disuruh mengungsi tidak pernah ngeyel,” ujar Narjo (50), warga Dusun Kalitengah Lor.

Di Kupang, Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya menilai masyarakat setempat belum sadar akan dampak risiko bencana. Sejumlah kebijakan pemerintah daerah terkait ancaman bencana sering diabaikan. Padahal, NTT punya ancaman bencana sepanjang tahun dan sering menelan korban jiwa.

Silvi Fanggidae dari Yayasan Penguatan Institusi dan Kapasitas Lokal NTT menilai, masih rendahnya sosialisasi bagi warga yang menetap di kantong rawan bencana. Masyarakat harus diberi pelatihan dan keterampilan cara mengatasi bencana, seperti longsor dan letusan gunung api. Masyarakat cenderung menolak kebijakan pemerintah seperti berpindah lokasi permukiman dari daerah rawan bencana ke daerah aman karena belum paham. (ABK/ELD/KOR/JON)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.