Pawai Dugderan Berlangsung Kamis Ini

Kompas.com - 19/07/2012, 11:29 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com — Menyambut bulan puasa Ramadhan di Kota Semarang, warga, Kamis (19/7/2012), akan menyelenggarakan pawai dugderan mulai dari halaman Balai Kota Semarang, Jalan Pemuda, Masjid Besar Kauman di Johar hingga Masjid Agung Jawa Tengah di Jalan Gajah, Semarang, Jawa Tengah.

Pawai dugderan akan menampilkan maskot hewan imajiner warak ngendhog, yang diusung dalam pawai itu bersamaan dengan tarian khas semarangan, atraksi barongsai, barisan bendi, rombongan prajurit berkuda dan peserta dari partisipasi masyarakat ikut pawai.

 

Tradisi pawai dugderan ini sudah berlangsung lama. Tradisi ini berawal ketika Bupati Semarang Raden Tumenggung Purboningrat pada 1881 menginginkan ada penanda awal puasa bagi masyarakat di Kota Semarang. Kemudian, muncullah kegiatan di alun-alun dengan dihadiri semua etnis dan golongan masyarakat di Semarang.

 

"Kata dugder itu merupakan asalnya kata dug, yaitu suara beduk, dan der itu bunyi ledakan dari meriam atau mercon besar yang menandai awal puasa. Bunyi beduk dipukul keras dari Masjid Besar Kauman, Semarang," kata perwakilan dari Humas Pemkot Semarang, Achyani.

 

Selama dua minggu sebelum pawai dugderan berlansung, pedagang sudah menggelar pasar malam dugderan di sepanjang Jalan KH Agus Salim hingga perempatan Pekojan, Johar, Semarang.

 

Di pasar malam ini, pengunjung dapat menjumpai pedagang celengan atau gerabah untuk menyimpan uang dalam aneka bentuk binatang, seperti sapi, kerbau, ayam, sampai bentuk kendi. Para pedagang juga menjual patung hewan imajiner warak ngendhog,

 

Omzet penjualan di pasar malam kini semakin menurun. Sepuluh tahun lalu, setiap pasar malam digelar, pedagang bisa menjual 3.000 warak ngendhog dalam berbagai ukuran, kini hanya kurang lebih 250.

 

"Warak ngendhog itu kan hewan imajiner yang bermakna mari bersuci di bulan puasa Ramadhan supaya kita bisa meraih hasil, yakni kemenangan di hari raya Idhul Fitri. Warak asal kata bahasa Arab yakni wara'i yang artinya suci, sedangkan ngendhog itu bahasa Jawa, yakni bertelur atau memperoleh hasil," papar Faizin, warga Kauman yang tak pernah melewatkan pawai dugderan.

 


EditorAgus Mulyadi

Close Ads X