Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pasang Surut Mebel Rotan Trangsan

Kompas.com - 02/07/2012, 03:15 WIB

Oleh Sri Rejeki

Nasib usaha kerajinan rotan sering bak roaller coaster: naik turun dengan cepat. Orientasi pasar yang sebagian besar ekspor menjadikan industri ini rentan terpengaruh ekonomi global. Agar bertahan, usahawan rotan di Trangsan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, punya cara menyiasatinya. 

Tohirin (38) dan Tugiran (41) menyelesaikan satu demi satu pekerjaan di depannya, Rabu (6/6). Keduanya memegang rotan yang sama, masing-masing di ujungnya. Secara serempak lalu ujung-ujung rotan digerakkan berlawanan arah dengan pusat rotan mengikuti cetakan besi berbentuk tabung agar terbentuk setengah lingkaran.

Jadilah, bagian tepi belakang kursi. Agar mudah dibengkokkan, rotan harus diuapi dulu selama 15 menit. Uap berasal dari air yang direbus di dalam drum yang lantas dialirkan ke dalam tabung aluminium sepanjang enam meter, tempat menaruh tumpukan rotan. Potongan-potongan rotan yang telah dibentuk lalu dirangkai menjadi kursi goyang yang kemudian diekspor ke salah satu negara di Eropa Timur.

Aktivitas membuat mebel dan kerajinan dari rotan sudah menjadi aktivitas sehari-hari penduduk Desa Trangsan. Warga menguasai keterampilan dan teknologi sederhana pengolahan rotan, seperti kursi, peti mati, laci, dan lemari. Tidak sedikit, bahan baku rotan juga dikombinasi dengan bahan baku lain, seperti kayu dan eceng gondok. Hampir di setiap rumah terlihat pembuatan kerajinan rotan yang bermula di desa ini sejak tahun 1940. Bahkan, sebaran perajin rotan melebar ke Desa Luwang yang bertetangga.

Salah seorang warga Desa Luwang, Suci (40), sejak 15 tahun yang lalu bersama sang suami mengandalkan pembuatan wadah ayam jago dari rotan untuk menghidupi keluarga mereka yang memiliki lima anak. Wadah jago buatan mereka dijual ke pasar seharga Rp 15.000 per buah. Suci mewarisi keterampilan membuat wadah jago dari orangtuanya.

Begitu pula Sardjito, warga Desa Trangsan. Berawal sebagai tenaga kerja di salah satu perusahaan rotan, ia kemudian memberanikan diri merintis usaha mandiri sejak 20 tahun lalu. Kini, produksi kursi goyang rotannya merambah Eropa meski melalui eksportir. Produksinya per bulan saat ini mencapai 120 kursi goyang senilai Rp 25 juta-Rp 35 juta.

Ketua Koperasi Trangsan Manunggal Jaya Suparji mengungkapkan, saat industri rotan jaya, tidak kurang dari 300 perajin muncul di Trangsan, terdiri dari pengusaha besar, menengah, dan kecil dengan puluhan di antaranya merupakan eksportir langsung. Volume produksi mebel rotan mencapai 300 kontainer per bulan. Ada 2.000 tenaga kerja yang menggantungkan hidup di sini.

Krisis Amerika-Eropa

Sayangnya, sejak krisis keuangan di Amerika yang diikuti krisis keuangan di Eropa selama dua tahun terakhir, pesanan ekspor kini tinggal 30 persen. Menurut Suparji, kini hanya tinggal 120 perajin yang aktif berproduksi. Jumlah tenaga kerja pun menyusut menjadi 500 orang. Sebagian besar beralih profesi ke bidang lain, seperti buruh bangunan atau merantau bekerja di pabrik rotan di Kalimantan atau Sulawesi.

Padahal industri yang padat karya ini pernah menjadi ”gula-gula” bagi pekerja dari luar daerah, seperti Pacitan, Gunung Kidul, Sragen, Ngawi, dan Purwodadi. Contohnya, Tohirin dari Sragen dan Tugiran dari Gunung Kidul.

Sepinya ekspor disiasati perajin setempat dengan membuat produk untuk kebutuhan domestik. Sardjito, misalnya, membuat sketsel atau penyekat ruang yang dijualnya Rp 450.000 per unit. Barang-barang itu dijual ke Kota Solo dan sekitarnya secara langsung atau melalui tengkulak ke toko-toko.

”Kondisi sudah susah masih ditambah bahan baku sulit dan harganya mahal. Pasokan rotan sekarang tinggal 20 persen. Anehnya kalau kita minta rotan, dikatakan ada barang, tapi harganya tinggi,” keluh Sardjito.

Hal serupa diungkapkan Tia, perajin dan penjual bahan baku rotan di Desa Luwang. Harga rotan asal Kalimantan, menurut dia, kini Rp 10.000- Rp 11.000 per kg. Ia memperoleh rotan dari pemasok di Surabaya. Kondisi ini sudah berlangsung 6-12 bulan terakhir. Tahun lalu harga rotan serupa masih Rp 9.000-Rp 9.500 per kg.

Para perajin sangat berharap adanya terminal bahan baku rotan di Trangsan untuk menjamin stabilitas pasokan dan menjaga harga rotan. Menurut Suparji, kebutuhan perajin tiap bulan rata-rata 200 ton untuk semua jenis rotan.

”Kemarin kami bersama DPRD dan Pemkab Sukoharjo ke Katingan, Kalimantan Tengah. Di sana rotan melimpah, tetapi tenaga terampil tidak ada. Namun, setiap hari bahan baku selalu keluar, entah dikirim ke mana.

Sayangnya, seperti diungkapkan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sukoharjo Bambang Sudibyo, terminal bahan baku rotan belum bisa diwujudkan dalam waktu dekat. Upaya untuk itu sedang dijajaki.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com