Separatisme Tumbuh karena Ketidakadilan Pemerintah

Kompas.com - 29/06/2012, 11:15 WIB
|
EditorHertanto Soebijoto

JAKARTA, KOMPAS.com - Gerakan separatisme yang tumbuh di beberapa daerah di Tanah Air merupakan efek dari ketidakadilan yang terjadi. Pemerintah seolah tak mampu "menjaga" dan merangkul rakyatnya yang tersebar di Nusantara. Kekecewaan pun timbul sehingga melahirkan kelompok-kelompok yang ingin memisahkan diri dari NKRI.

Ketika berbicara Papua, persoalan yang terjadi tidaklah mudah. Ada banyak hal yang perlu dibenahi di Bumi Cendrawasih itu. Kasus penembakan dan kekerasan yang terjadi, membuat kondisi Papua menjadi tidak aman.

Menanggapi itu, mantan aktivis Kontras Papua, Dorus Wakum (40), yang ditemui Kompas.com, saat turut hadir pada aksi bakar lilin, di Bundaran Hotel Indonesia, Kamis (28/6/2012) malam, mengatakan, separatis dapat terjadi di mana saja.

"Kekerasan di Papua sudah hampir lima puluh tahun. Saya pikir, separatis tidak hanya di Papua, di Aceh juga ada. Ini terjadi ketika rakyat ditindas," ujar Dorus.

Ia kemudian menceritakan, ayahnya penah menjadi korban atas tudingan separatis. "Ayah saya bukan OPM, tapi dihukum tahun 1977. Dianiaya, disiksa, dikurung dalam kontainer selama lima bulan karena dituduh separatis," kata Dorus.

Dia berharap pemerintah mau hadir dan berdialog dengan masyarakat Papua. Menurut Dorus, sudah lama masyarakat Papua menjadi korban ketidakadilan. Aksi yang dilakukan di Bundaran HI, katanya, sebagai duka yang mendalam atas persoalan yang terjadi di Papua.

"Ini sebenarnya lilin duka, untuk kekerasan di tanah Papua. Jadi kami berharap kekerasan yang terjadi ini segera dihentikan," ujar Dorus.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pendeta Benny Giay, yang juga turut dalam aksi 'bakar lilin' di Bundaran HI, menyampaikan duka atas para korban aksi penembakan yang terjadi di Papua. "Kami mau sampaikan pertama kepada mereka-mereka yang sudah meninggal bahwa kami tidak lupakan impian mereka dan harapan-harapan mereka untuk Papua yang aman," kata Benny.

Dia mengatakan, keberpihakan, perlindungan, dan penguatan di Papua tidak diwujudkan dalam program yang kongkret. "Yang membuat mereka mau merdeka, atau nasionalisme yang tidak pernah timbul, karena reaksi dari sistem yang menindas," kata Benny.

Seperti diberitakan sebelumnya, massa yang tergabung dari berbagai aliansi melakukan aksi 'bakar lilin' menuntut demokrasi di Papua, dan meminta konflik senjata dan kekerasan di Papua tidak terulang. Dalam aksi itu juga dilakukan penyalaan lilin oleh pendeta Benny, yang menurutnya sebagai simbol cahaya rakyat Papua tidak akan pernah padam pada 250 suku yang ada di Papua. Massa juga kemudian menyayikan beberapa lagu dan menarikan tarian Yospan khas Papua.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.