Mengenang "Mpok Kite" Chadidjah

Kompas.com - 21/04/2012, 10:47 WIB
Penulis Windoro Adi
|
EditorRobert Adhi Ksp

oleh Windoro Adi

Tahun 1960-an, SMP-SMA Santa Maria di Jalan Nusantara (kini bernama Jalan Ir Djuanda), Jakarta Pusat, sudah dikenal sebagai salah satu sekolah khusus putri kaum jetset peranakan Cina dan Belanda. Hanya segelintir saja yang bukan peranakan China dan Belanda di sana. Di antara yang segelintir itu adalah Yasmine Zaki Shabab dan temannya Chadidjah. Keduanya adalah orang Betawi dari keluarga terpandang.

Satu hari saat istirahat sekolah, Chadidjah mengggunjingkan kakak perempuannya di kelas. Tanpa sengaja, Chadidjah melepas kata, "Mpok kite" (kakak saya). Mendengar ungkapan Betawi itu, meledaklah tawa seisi kelas. Chadidjah terkejut. Ia lalu sadar bahwa ia baru saja menunjukkan identitas Betawi-nya, dan itu, me-ma-lu-kan.

Dengan wajah merah, ia lari ke luar ruang kelas menuju toilet. Di sana ia menangis sejadi-jadinya. Sejak itu, kawan-kawan sekolah Chadijah memanggil Chadidjah ,"Mpok Kite". Julukan baru itu membuat Chadidjah stres. Ia bahkan beberapa hari tidak masuk sekolah karena malu dengan panggilan "Mpok Kite".

"Cerita tentang masa kecil saya bersama Chadidjah itu menunjukkan, etnis Betawi identik dengan keterbelakangan. Kala itu masyarakat kita mengenal orang Betawi udik, sebagai orang Betawi umumnya. Padahal menurut teori saya, etnis Betawi itu terdiri dari Betawi Kota, Betawi Pinggir, dan Betawi Udik. Kasus Chadidjah menunjukkan, kaum Betawi Kota pun menjadi inferior karena ikut dianggap terbelakang oleh masyarakat kita," " tutur Yasmine (64) yang kini menjadi guru besar antropologi UI, di rumahnya, di Jalan Masjid Bendungan II nomor 11, Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (18/4/2012).

Sore itu Yasmine menyajikan makanan ringan Samosa. Makanan mirip pastel ini berasal dari India. Menurut Yasmine, 10 tahun terakhir ini, Samosa populer di kalangan Betawi peranakan Arab. Balutan tepung yang digoreng ini bisa berisi daging cincang atau bahan vegetarian (kacang kacangan, wortel, dan atau kentang) yang diberi bumbu kari.

Buat orang-orang Betawi peranakan Arab yang umumnya berasal dari Yaman Selatan seperti halnya keluarga Yasmine, masakan India, terutama dari Gujarat, sudah lama akrab dengan lidah mereka ("Warisan Kuliner Indonesia: Hidangan Betawi", Wahyuni Mulyawati dan Ilse Harahap, Gramedia Pustaka Utama, 2007).

Sejarah demografi
Usai mempersilakan tamunya mencicipi Samosa, Yasmine menjelaskan, etnis Betawi diperkirakan terbentuk antara tahun 1815-1893. Perkiraan didasarkan studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Castle.

Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tanpa menyebut etnis Betawi. Tetapi dalam sensus tahun 1893, orang Arab dari Yaman Selatan atau Hadramaut dan Moor (sebutan untuk orang-orang dari Gujarat, India), Bali, Jawa, Sunda, Bugis, Sumbawa, Ambon, serta Melayu, menghilang. Sebagai gantinya muncul istilah pribumi (inlander) yang kemudian terserap ke dalam kelompok etnis Betawi.

Yasmine membagi etnis Betawi menjadi tiga golongan. Golongan pertama adalah orang Betawi Kota yang lebih banyak bekeja sebagai politisi, birokrat, ekonom, maupun pengusaha. "Mereka menimba ilmu di sekolah umum pada pagi hari, dan sekolah agama di malam hari," tutur antropolog Betawi ini. Pernikahan silang lebih banyak terjadi diantara peranakan Arab dan Indo, serta sedikit di antara peranakan China kota. Budaya Arab dan Melayu mendominasi golongan ini.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X