Kemelut Gunung Kelud

Kompas.com - 30/01/2012, 20:26 WIB
EditorFikria Hidayat
OLEH BAMBANG SETIAWAN/Litbang Kompas


KOMPAS - ”Tahun 2007, dari bisikan yang saya peroleh, katanya belum akan meletus. Maka, saya menyatakan belum. Kalau Pak Surono (Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) dari Bandung menyatakan akan mbledos (meletus),” kata Mbah Ronggo, yang dikenal masyarakat setempat sebagai juru kunci Gunung Kelud.

Kemelut dalam soal penentuan apakah Gunung Kelud akan meletus atau tidak memberi warna tersendiri menjelang erupsi tahun 2007. Pergumulan antara pengetahuan ilmiah dan kekuatan supernatural berimbas pada persoalan mitigasi dan ikatan sosial.

Aktivitas Kelud memang meningkat sejak 10 September 2007, yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi gempa vulkanik, naiknya suhu air kawah, dan perubahan warna danau kawah dari hijau menjadi putih keruh. Pada 16 September 2007, status Awas (tertinggi) dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Sejak itu, Tim Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Kabupaten Kediri berupaya mengungsikan masyarakat yang tinggal di sekitar zona bahaya Gunung Kelud, radius 10 kilometer dari kawah. Namun, masyarakat, khususnya yang tinggal di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, enggan mengungsi.

Mereka masih menunggu kepastian dari Mbah Ronggo, yang pada letusan Gunung Kelud tahun 1990, dianggap mampu meramalkan kapan terjadinya letusan. Mbah Ronggo yang memiliki nama asli Parjito saat itu menyatakan bahwa Gunung Kelud, berdasarkan bisikan yang ia terima dari leluhurnya, belum akan meletus.

”Lantas saya dibujuk sama Bapak Kapolres disuruh mengungsi supaya orang-orang mau mengungsi,” cerita Mbah Ronggo. Akhirnya, petang itu, 18 September 2007, ia pun meninggalkan Dusun Margomulyo ke tempat pengungsian di Balai Desa Tawang, Kecamatan Wates. Walau demikian, ia tetap mempertahankan keyakinannya. Di pengungsian ia meminta pengungsi segera dikembalikan ke dusunnya masing-masing karena Gunung Kelud belum akan meletus.

Status ”kuncen” atau juru kunci Gunung Kelud memang berbeda dibandingkan daerah lain, seperti Gunung Merapi atau Rinjani. Jika di Merapi juru kunci memiliki kekuatan legalitas dari Sultan Yogyakarta, serta di Rinjani dikuatkan kekuatan adat dan keturunan, di Kelud hanya diakui masyarakat sekitar dan perangkat setingkat desa.

Ikatan sosial yang berporos pada juru kunci tercipta karena kekuatan supernaturalnya. Meskipun nama Mbah Ronggo sudah dikenal luas dan kerap dimintai nasihat mengenai kapan sebaiknya dilaksanakan ritual sesaji untuk Gunung Kelud, tidak membuatnya diakui sebagai juru kunci yang sah oleh pemerintah daerah. Tampaknya, pengalaman kejadian tahun 2007 dan peristiwa tewasnya Mbah Maridjan oleh letusan Gunung Merapi tahun 2010 turut memengaruhi pandangan tentang juru kunci.

Sejak peristiwa 2007, posisi Mbah Ronggo dirasakan menjadi serba sulit. Sekarang, ia terlihat sangat hati-hati untuk terlibat dalam persoalan terkait Gunung Kelud. Sikap pemda ataupun pengelola pariwisata Gunung Kelud pun dirasakan menjaga jarak dengannya. ”Jadi, kalau ada ritual, ada kegiatan, saya tidak tahu. Sudah empat tahun saya tidak mengikuti (acara) yang diselenggarakan dinas pariwisata,” ungkapnya.

Letusan yang unik

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.