Benteng Alam Pelindung Pura Besakih

Kompas.com - 29/12/2011, 14:23 WIB
EditorFikria Hidayat
Ketua Tim Penulis: Ahmad Arif
Tim Penulis: Indira Permanasari, Agung Setyahadi, Agustinus Handoko, Cornelius Helmy Herlambang


Letusan Gunung Agung tahun 1963 yang menewaskan lebih dari 1.000 jiwa menyisakan beberapa ”keajaiban”, selain kisah petaka. Pura Besakih, yang saat itu disesaki ribuan warga Bali dalam perayaan Eka Dasa Rudra, selamat dari letusan.

Aliran awan panas dan lahar seperti menghindari Besakih, padahal desa-desa di sekitarnya hancur. Bahkan, pura terbesar di Bali ini telah bertahan dari serangkaian aktivitas vulkanik Gunung Agung selama ratusan tahun. Paling tidak sejak 600 tahun lalu, tidak ada catatan mengenai kerusakan Pura Besakih akibat letusan Gunung Agung.

Kama Kusumadinata, vulkanolog Direktorat Geologi Bandung yang berada di Bali selama erupsi Gunung Agung 1963, menilai, pembangun Pura Besakih mengetahui betul lokasi yang aman dari letusan Gunung Agung.

Setelah mengeksplorasi bentang alam Gunung Agung, Kusumadinata berkesimpulan, Pura Besakih aman dari erupsi 1963 karena berada di belakang titik tertinggi Gunung Agung (3.142 mdpl), sementara aktivitas vulkanik terjadi di kaldera yang bersisian dengan puncak.

Puncak itu menyambung dengan punggungan yang menerus hingga kaki gunung ke arah barat daya-selatan itu menjadi semacam benteng alam bagi Pura Besakih.

Selain itu, berdasarkan pengukuran Kusumadinata, pura berada 6,5 kilometer dari kawah. Ini merupakan jarak aman karena berada di luar jari-jari zona rawan bahaya 5 kilometer pada 1963 dan 6 kilometer pada peta kawasan rawan bencana saat ini.

Meskipun terlindungi oleh puncak Gunung Agung, lemparan lapili berupa pasir dan kerikil masih sampai di kompleks Pura Besakih. Kusumadinata mencatat, di sekitar pura ada endapan kerikil serta pasir.

Sementara itu, lontaran awan panas terhalang oleh benteng alam puncak Gunung Agung dan punggungan memanjang ke arah barat daya. Sketsa puncak dari arah Besakih yang dibuat Kusumadinata pada 1963 menunjukkan posisi yang sama dengan tampilan citra satelit tiga dimensi Google Earth.

Benteng alam juga terdapat di Gunung Merapi di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah, yang sering disebut sebagai geger boyo (bahasa Jawa, berarti punggung buaya) di sisi selatan mengarah ke Yogyakarta. Geger boyo ini bertahan selama 100 tahun melindungi Dusun Kinahrejo dan permukiman lain di sisi selatan Merapi.

Namun, geger boyo ini kemudian jebol saat erupsi Merapi tahun 2006. Dampak nyata dari hilangnya pelindung alami itu terjadi pada erupsi 2010. Dusun Kinahrejo yang selama 100 tahun terlindungi kemudian diterjang awan panas. Aliran lahar dan awan panas pun meluncur ke Kali Gendol dan Kali Kuning di sisi selatan Merapi.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.