Warisan Semangat Pluralisme Jaya Pangus

Kompas.com - 29/12/2011, 03:50 WIB
Editor

Budaya Tionghoa turut andil membentuk kebudayaan Bali saat ini. Jika dirunut, bisa jadi, semua itu bermula ketika Raja Sri Jaya Pangus jatuh cinta.

Konon, pada tahun 1181 Masehi, Raja Sri Jaya Pangus berkuasa di kerajaan Panarajon, bukit Penulisan, Kintamani, Bali. Suatu waktu, ia ingin mempersunting Kang Ching Wie, seorang putri cantik yang merupakan anak saudagar kaya dari Tiongkok yang sedang singgah di Bali.

Para sesepuh yang tidak merestui percintaan itu meramal bahwa Panarajon akan hancur apabila Jaya Pangus bersikeras mengawini Kang Ching Wie. Namun, Jaya Pangus keras kepala dan berbagai tragedi pun terjadi.

Panarajon hancur dan Raja Jaya Pangus lari ke Desa Pinggan, Kintamani, untuk membangun kerajaan baru yang kini menjadi Pura Dalem Balingkang. Meski punya kerajaan baru, Jaya Pangus tetap sedih. Ia dan Kang Ching Wie tidak kunjung dikaruniai anak.

Jaya Pangus pun memutuskan bertapa di sekitar Danau Batur, memohon untuk diberi anak. Namun, Jaya Pangus justru bertemu dengan Dewi Danu, putri Batari Batur. Mereka pun akhirnya menikah.

Ketika menyusul suaminya yang tidak kunjung pulang, Ching Wie merasa terpukul mengetahui Jaya Pangus menikahi Dewi Danu. Ching Wie dan Dewi Danu pun bertengkar. Batari Batur yang melihat pertengkaran itu akhirnya memusnahkan Jaya Pangus dan Kang Ching Wie.

Masyarakat Bali pun sedih kehilangan raja mereka dan memohon kepada Batari Batur untuk membuat pratima (patung sakral) untuk mengenang Jaya Pangus dan istrinya. Sejak saat itu, di beberapa pura di Bali ada semacam tempat yang menyerupai kelenteng untuk menghormati Kang Ching Wie. Hindu dan Buddha yang menjadi representasi Bali dan China pun bersatu.

Pengaruh budaya Tionghoa juga tampak dalam beberapa tradisi keagamaan umat Hindu di Bali. Misalnya, penggunaan uang kepeng (uang dengan lubang di tengahnya sebagai sarana upacara agama) dan adanya Barong Landung yang merupakan simbol Raja Jaya Pangus dan Kang Ching Wie. Barong Landung berupa sepasang barong berwujud manusia yang bermakna sebagai pembawa kedamaian.

Legenda

Dalam buku Integrasi Budaya Tionghoa ke dalam Budaya Bali dan Indonesia, terbitan Universitas Udayana tahun 2011, I Made Bandem menyebut bahwa kisah Raja Jaya Pangus merupakan legenda. Namun, sosok Raja Jaya Pangus memang nyata. Dua prasasti, yaitu Prasasti Buwahan dan Prasasti Sibang Kaja pada abad ke-12 menyebut Raja Jaya Pangus merupakan salah satu raja besar yang berkuasa di Bali pada tahun 1181-1204 Masehi.

Untuk lebih memahami legenda itu, Kompas mengunjungi tiga pura di Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, yang menjadi bagian dari legenda itu, Sabtu (10/12). Ketiga pura itu, Pura Pucak Penulisan, Pura Dalem Balingkang, dan Pura Ulun Danu Batur.

Pura Pucak Penulisan terletak di Desa Sukawana, Bangli, sekitar 70 kilometer dari Denpasar. Pura yang menjadi pusat kerajaan Panarajon ini tinggi sekitar 1.750 meter dari permukaan laut. Untuk mencapai pura harus melewati 283 anak tangga.

Rasa lelah saat meniti tangga seolah hilang ketika memasuki areal pura. Kabut tipis terlihat mendekat dan suara angin menggesek pepohonan, bagaikan suara debur ombak dari kejauhan.

Pura ini menyimpan beragam patung kuno dan ornamen dari batu. Pengamat budaya dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Kadek Suartaya, mengatakan, patung-patung batu itu peninggalan pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa selama abad ke-8 hingga abad ke-11. Jaya Pangus menjadi raja terakhir di Panarajon.

Bendesa Adat Desa Pinggan Made Seden mengisahkan, Raja Jaya Pangus pergi ke Desa Pinggan setelah Panarajon dilanda bencana berupa hujan dan angin besar. Setiba di Desa Pinggan, Jaya Pangus mulai membangun Dalem Balingkang yang dapat diartikan penyatuan ”Bali” dan marga Tionghoa, ”Kang”.

Di areal Pura Balingkang terdapat pelinggih (tempat suci) Ratu Ayu Mas Subandar untuk menghormati Kang Ching Wei yang bernuansa Tionghoa. Ada lampion merah dan hiasan piring keramik serta guci China.

Pelinggih serupa ditemui di Pura Ulun Danu Batur di Desa Batur, Kintamani, yaitu pelinggih I Gede Ratu Ngurah Subandar. Tidak hanya umat Hindu dan Buddha saja yang boleh bersembahyang di tempat itu, tetapi semua orang. ”Tidak apa-apa karena Tuhan hanya satu, sementara manusia memiliki cara berbeda-beda untuk memuja-Nya,” kata pemuka agama Pura Ulun Danu Batur I Wayan Sukadia.

Keharmonisan dan pluralisme yang menjadi pesan utama dari legenda Jaya Pangus ini membuat dalang dan dosen ISI Denpasar, I Made Sidia, tertarik untuk mementaskannya. Legenda ini pun dikemas dengan megah di Bali Safari and Marine Park di Kabupaten Gianyar, Bali. Selain dipentaskan lebih dari 150 penari, pertunjukan berjudul ”Bali Agung” ini juga melibatkan sejumlah satwa.

Dengan dipentaskan secara rutin, Made berharap penonton bisa diingatkan bahwa keharmonisan beragama sangat indah. Apalagi saat ini konflik yang terjadi lebih banyak bermula dari perselisihan antar-agama. Jadi, warisan Jaya Pangus ini sangat relevan untuk masa kini.

(Herpin Dewanto)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wali Kota Hendi Pastikan Jokowi Akan Tinjau Vaksinasi Tahap 2 di Kota Semarang

Wali Kota Hendi Pastikan Jokowi Akan Tinjau Vaksinasi Tahap 2 di Kota Semarang

Regional
Kasus Covid-19 di Jateng Melandai, Ganjar Minta Upaya 3T Terus Digenjot

Kasus Covid-19 di Jateng Melandai, Ganjar Minta Upaya 3T Terus Digenjot

Regional
Resmikan Tempat Fisioterapi, Wali Kota Hendi Motivasi Penderita Cerebral Palsy

Resmikan Tempat Fisioterapi, Wali Kota Hendi Motivasi Penderita Cerebral Palsy

Regional
KM Fajar Baru 8 Terbakar Saat Bersandar di Pelabuhan Rakyat Sorong, Korban Jiwa Nihil

KM Fajar Baru 8 Terbakar Saat Bersandar di Pelabuhan Rakyat Sorong, Korban Jiwa Nihil

Regional
Kacang Tak Lupa Kulit, Ganjar Sempatkan Diri Sowan ke Rumah Indekos Semasa Kuliah

Kacang Tak Lupa Kulit, Ganjar Sempatkan Diri Sowan ke Rumah Indekos Semasa Kuliah

Regional
'Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat'

"Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat"

Regional
Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Regional
Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X