Perikanan Muncar Mulai Menggeliat

Kompas.com - 01/12/2011, 02:54 WIB
Editor

Banyuwangi, Kompas - Industri perikanan di Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menggeliat setelah nelayan panen ikan ratusan ton sejak dua pekan lalu. Panen ini diharapkan mengakhiri paceklik yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir.

Mulai bergairahnya industri perikanan terlihat dari banyaknya kapal-kapal nelayan yang kini mulai beroperasi kembali. Sebelumnya saat paceklik, kapal yang berjumlah ratusan itu hanya bersandar di pelabuhan dan hanya melaut sesekali. Kini kapal-kapal tersebut datang dengan membongkar muatan ikan yang mereka peroleh di selat Bali.

Suasana pasar ikan pada Rabu (30/11) juga terlihat ramai dengan ratusan pedagang, buruh pengangkut ikan, hingga pembeli dari berbagai daerah. Pabrik es, cold storage atau tempat penyimpanan ikan yang dulu sepi, kini juga dipenuhi para pekerja.

Sujatim (45), nelayan yang bekerja di kapal jenis slereg, mengatakan, tangkapan ikan dua pekan terakhir sangat tinggi. Dalam semalam, kapalnya bisa membawa ikan jenis lemuru sebanyak 20 ton. Saat paceklik lalu biasanya ia hanya mendapatkan 2 ton ikan.

Banyaknya tangkapan menguntungkan para pekerja pabrik pendingin ikan. Dedi (20), karyawan dari Sinar Bahari cold storage, mengatakan, perusahaannya telah menambah karyawan untuk mengepak ikan-ikan yang hendak dibekukan. Jika dulu mereka hanya mengoperasikan 25 persen dari kapasitas penyimpanan, kini setidaknya 80 persen kapasitas cold storage telah terisi ikan lokal.

Satromi (33), buruh pengangkut ikan, juga bisa kembali bekerja setelah hampir dua tahun menganggur. Menurut Satromi, pendapatannya bisa mencapai Rp 50.000-Rp 80.000 per hari.

Namun, panen di Muncar membuat harga berbagai jenis ikan anjlok. Harga ikan tongkol bahkan mencapai titik terendah dalam dua tahun terakhir, yakni Rp 4.000 per kilogram (kg) dari harga sebelumnya yang mencapai Rp 11.000 per kg. Menurut Abidin, Kepala Tempat Pelelangan Ikan Muncar, kondisi perikanan laut tidak bisa ditebak.

Solar sulit

Sementara itu, puluhan nelayan di pesisir Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, sekitar 30 kilometer arah selatan Kota Makassar, kesulitan mendapatkan solar. Minimnya jatah solar menyebabkan sebagian besar nelayan hanya melaut selama 10-15 hari dalam sebulan.

Kepala Seksi Pengembangan Masyarakat Pesisir Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel Andi Chairul mengatakan, kesulitan mendapatkan solar dialami seluruh nelayan di Sulsel.

Sales Representatif PT Pertamina Regional VII Makassar, Muhammad Iswahyudi, mengatakan, pihaknya telah meningkatkan kuota solar bersubsidi bagi nelayan di Sulsel 6-7 persen pada 2010 dan 2011. ”Kami upayakan agar tahun depan lebih besar meskipun prosesnya tidak mudah,” ungkapnya. (NIT/RIZ)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.