Marapi Terus Keluarkan Semburan

Kompas.com - 22/11/2011, 03:00 WIB
Editor

Bukittinggi, Kompas - Gunung Marapi di daerah Koto Baru, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar dan Agam, Sumatera Barat, kembali menyemburkan material vulkanik, Senin (21/11). Semburan setinggi 500 meter sekitar pukul 07.33 itu merupakan semburan ke-112 sepanjang bulan November ini.

Petugas Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BGPVMB) Bukittinggi, Warseno, mengungkapkan, sebelum letusan pukul 07.33, Gunung Marapi sempat meletus pula beberapa saat sebelumnya, yaitu sekitar pukul 07.10. Namun, dua letusan berturutan pada Senin pagi itu tak membahayakan warga sekitar.

”Ketinggian letusan sekitar 500 meter dari kawah. Yang terlontar ke udara terutama abu vulkanik. Namun, material letusan tak menyebar ke permukiman. Hanya jatuh di sekitar kawah,” kata Warseno.

Letusan tersebut juga belum mengubah status Waspada atas peningkatan aktivitas vulkanik gunung api setinggi 2.891 meter di atas permukaan laut itu dalam hampir sebulan terakhir. Letusan paling besar sepanjang November ini terjadi pada tanggal 14, yang mencapai ketinggian 700 meter dari puncak gunung.

Menurut Warseno, sejauh ini letusan Gunung Marapi masih aman bagi warga sekitar. Material letusan belum menjangkau permukiman warga. Permukiman terdekat ada di radius 5,5 kilometer dari puncak gunung, yakni Desa Batu Palano, Jorong Kubu Cupadak, dan Tanah Datar.

Peningkatan aktivitas vulkanik di Gunung Marapi, lanjut Warseno, terjadi karena adanya tekanan energi dari dalam dapur magma gunung ini. Tekanan itu pun memaksa adanya pelepasan energi ke kawah dalam bentuk letusan.

Pada tahun 2005, letusan kecil beruntun seperti terjadi sebulan terakhir, pernah terjadi pada Gunung Marapi. Tak ada korban jiwa ataupun kerusakan yang ditimbulkan akibat letusan tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Letusan terbesar gunung api berbentuk strato tersebut, yang pernah tercatat terjadi pada tahun 1952. Kala itu semburan material vulkanik mencapai ketinggian 3.000 meter di atas kawah. Setelah itu, gunung ini meletus secara periodik namun dalam skala yang lebih kecil daripada letusan tahun 1952 itu.

Akibat peningkatan aktivitas vulkanik tersebut, semua aktivitas pendakian ke Gunung Marapi ditutup. Namun, peningkatan vulkanik itu tak menghentikan aktivitas warga di lereng gunung seperti waktu-waktu sebelumnya.

Hamdani (40), warga Batu Palano, mengaku melihat letusan-letusan Marapi beberapa hari terakhir. Namun, dianggap biasa. ”Yang kami khawatirkan longsor kalau musim hujan seperti ini. Beberapa lereng ada yang rawan longsor di sini,” kata dia. Longsor kali terakhir terjadi pada Maret 2008 lalu di Pasir Lawas, Tanah Datar. (HAN)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.