Manajemen PT Leces Diminta Fokus Produksi

Kompas.com - 07/11/2011, 03:20 WIB
Editor

Probolinggo, Kompas - Pabrik kertas PT Leces di Probolinggo, Jawa Timur, satu dari 141 badan usaha milik negara diminta lebih fokus pada produksi andalan. Apalagi, saat ini ada 15 BUMN yang butuh penanganan khusus, termasuk Leces, karena dibelit sejumlah persoalan.

”Untuk kasus Leces, saya meminta manajemen fokus menangani dua jenis usaha saja, yaitu memproduksi tisu MG untuk diekspor ke Amerika Serikat dan kertas keamanan untuk dokumen berharga. Dua jenis ini yang paling mungkin digarap agar bisa bertahan,” kata Menteri BUMN Dahlan Iskan, Minggu (6/11), di Probolinggo.

Pabrik kertas tersebut sejak Juni 2010 berhenti produksi akibat tidak memiliki bahan bakar karena terbelit beragam persoalan keuangan. Pada Oktober, manajemen bahan telat membayar gaji 1.886 karyawan.

”Kondisi perusahaan tidak bisa menggaji karyawan, artinya sudah parah, jadi perlu terobosan agar Leces kembali kompetitif,” katanya.

Apalagi, Leces pernah mengekspor tisu MG ke AS sebanyak 4.000 ton, dengan nilai Rp 55 miliar. Volume ini diharapkan bisa meningkat hingga 7.000 ton. Sementara itu, produksi kertas keamanan untuk sejumlah keperluan dalam negeri, seperti rapor siswa di sekolah, surat nikah, dan kertas berharga lain.

Pabrik gula

Padahal, selama ini, Leces memproduksi beragam jenis kertas. Manajemen juga ingin membangun pabrik gula baru di kawasan pabrik kertas itu.

”Soal pabrik gula, saya izinkan lahan pabrik dipakai dan ditangaini pihak yang ahli di bidang gula. Jangan ditangani perusahaan ini karena hasilnya pasti tidak akan maksimal. Biarkan Leces fokus pada dua produk kertas agar kembali pulih,” kata Dahlan.

Direktur Utama Keuangan PT Leces Zainal Arifin mengatakan, Leces berhenti berproduksi sejak Juni 2010 karena pasokan gas dari Perusahaan Gas Negara sebagai bahan bakar produksi turun.

PGN menawarkan memberi jatah 20 persen gas, padahal dengan volume terbatas, biaya operasional pabrik justru lebih mahal sehingga diputuskan sementara tidak berproduksi.

Manajemen Leces berupaya menyelesaikan boiler bahan bakar batubara yang dibangun sejak 2009. Namun, boiler yang direncanakan selesai Desember 2010 hingga kini belum tuntas sehingga pabrik belum bisa produksi.

Meski tidak produksi, Leces tetap mengeluarkan uang Rp 7 miliar per bulan untuk gaji pegawai dan biaya perawatan mesin. Total biaya yang harus ditanggung sejak tidak berproduksi hingga kini mencapai Rp 82 miliar.

”Kami ingin urusan kebutuhan dana segera beres, dan tahun 2012 ketika boiler batubara selesai dibangun, Leces bisa kembali beroperasi,” kata Zainal.(DIA)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.