Pembasmian Anjing Tidak Menyelesaikan Masalah

Kompas.com - 25/10/2011, 19:39 WIB
|
EditorTri Wahono

KOMPAS.com - Dalam rangka persiapan SEA Games XXVI di Sumatera Selatan, Dinas Peternakan Sumatera Selatan merencanakan program pembasmian anjing liar di sekitar Jakabaring Palembang. Pembastian yang akan dimulai Sabtu (29/10/2011) ini dilakukan karena anjing liar yang berkeliaran bisa menggigit manusia dan menularkan rabies.

Kepala Dinas Peternakan Sumatera Selatan Asrillazi Rasyid mengatakan bahwa pembasmian akan dilakukan dengan menggunakan makanan yang telah diberi racun. Sejumlah kalangan menentang keras kebijakan tersebut.

Dari kalangan awam, penentangan bisa dilihat di jejaring sosial Twitter. Seseorang dengan akun GersonBOGRES misalnya, menulis "Demi kehidupan, saya menentang SEA Games." Sementara, pemilik akun PutraRu menulis, "Sampai kemarin, gw masih mau nonton cabang anggar SEA Games. Setelah pembantaian anjing ini, gw BOIKOT!"

Memberikan tanggapan atas kebijakan Dinas Peternakan sumatera Selatan, Pramudya Harzani dari Jakarta Animal Aid Network mengatakan, "Kami menentang aksi pembantaian anjing di Palembang." Menurut Pramudya, aksi pembantaian tersebut bertentangan dengan Undang-Undang No 18 tentang kesejahteraan satwa dan KUHP No 302 yang mengatur tentang sanksi bagi yang memperlakukan hewan dengan keji.

"Pembasmian anjing dengan cara membunuh seperti itu juga tidak efektif karena hanya bersifat temporary saja, nanti bisa bertambah lagi," kata Pramudya.

Ia menjelaskan, jika di suatu daerah anjingnya dibasmi, maka kompetisi dalam populasi semakin menurun. Keadaan ini justru memacu anjing untuk terus bereproduksi. Pada akhirnya, dalam jangka panjang jumlah anjing bukan menurun, tetapi justru meningkat.

"Sebenarnya ada cara-cara bijak untuk mengatasi anjing liar, misalnya dengan cara sterilisasi dan vaksinasi," cetus Pramudya. Sterilisasi lebih memberi jaminan akan penurunan populasi hewan tertentu. Sementara, vaksinasi akan membantu mencegah penularan rabies dari anjing ke manusia.

Pramudya mencontohkan kegiatan sterilisasi kucing di wilayah jakarta, termasuk Kepulauan Seribu, yang dilakukan JAAN. Ia mengatakan bahwa setelah 3 tahun pelaksanaan program, jumlah populasi kucing kini sudah berkurang. Praktik yang sama juga sangat memungkinkan dilakukan pada anjing.

Menurut Pramudya, untuk persiapan SEA Games, sebenarnya masih bisa dilakukan tindakan sterilisasi. "Kita tinggal tangkap anjingnya, kemudian memberi vaksin dan kolar sebagai tanda telah divaksinasi," jelasnya.

"Kami dari JAAN dan lembaga lain sebenarnya siap membantu, asal bukan berupa penyiksaan terhadap hewan," tambah dia.

Ia menyatakan bahwa selain menyiksa hewan, pembantaian anjing dengan alasan pencegahan rabies justru akan mempermalukan Indonesia. "Indonesia justru akan malu karena SEA Games diselenggarakan dengan cara yang tidak ramah lingkungan," ungkap Pramudya.



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X