Letusan Marapi Diselubungi Kabut

Kompas.com - 21/09/2011, 19:51 WIB
EditorMarcus Suprihadi

AGAM, KOMPAS.com- Letusan kecil Gunung Marapi di Sumatera Barat yang terus terjadi hingga Rabu (21/9/2011) masih belum sepenuhnya bisa diamati secara kasatmata. Sepanjang Rabu pagi sejak pukul 00.00 hingga sekitar pukul 08.00 sedikitnya terjadi empat kali letusan yang mengeluarkan abu vulkanik. Pemantauan pada sejumlah titik di Kabupaten Tanahdatar dan Kabupaten Agam yang dilakukan sepanjang pagi hingga siang menunjukkan bagian puncak gunung itu masih diselubungi kabut.

Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Marapi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Warseno di Kota Bukittinggi mengatakan, empat kali letusan itu terpantau mengeluarkan abu vulkanik hingga setinggi 200 meter. Masing-masing letusan itu terjadi pada pukul 00.08, 01.00, 07.45, dan 08.30.

Ia mengatakan, letusan yang terlihat secara visual terjadi pada sekitar pukul 07.00 dengan abu vulkanik berwarna kelabu tebal. "Tetapi biasanya setiap pagi dan sore bagian puncaknya memang tertutup kabut," ujar Warseno.

Menurut Warseno, hingga kini letusan Gunung Marapi dengan mengeluarkan abu vulkanik masih terjadi dengan intensitas yang berubah-ubah. Ketinggian material abu vulkanik dari letusan berkisar antara 200 meter hingga 700 meter.

Letusan seperti itu terjadi sejak 13 September lalu dengan puncaknya pada 15 September mencapai 23 kali letusan dalam sehari.

Gunung Marapi diketahui pertama kali mengeluarkan semburan abu vulkanik di periode ini pada Rabu (3/8) lalu. Saat ini, untuk memantau gunung yang berketinggian 2.891,3 meter di atas permukaan laut itu digunakan dua buah sesimograf analog yang diletakkan pada ketinggian 1.480 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan di ketinggian 1.500 mdpl.

"Data analog dari seismograf itu selanjutnya diterjemahkan dalam bentuk digital. Sementara satu seismograf digital utuh yang sebelumnya dipasang pada ketinggian 2.000 mdpl sudah diangkat pada akhir Agustus lalu karena hendak digunakan untuk memantau Gunung Papandayan," kata Warseno.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia mengatakan, pemantauan dengan dua seismograf itu sudah dirasakan cukup mengingat tren aktivitas Gunung Marapi yang relatif menurun sejak 15 September lalu. Tidak Terpengaruh Gunung Marapi sat ini masih berstatus waspada. Gunung api bertipe stratovolcano itu juga masih dinyatakan terlarang untuk segala aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak gunung.

Namun aktivitas warga pada sejumlah lokasi di sekitar gunung itu relatif tidak terpengaruh. Pantauan sepanjang hari itu menunjukkan para petani dan kegiatan perdagangan tetap berlangsung seperti biasa.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.