Liput Sungai Bribin, Wartawan Dipungut Rp 300.000

Kompas.com - 11/09/2011, 19:26 WIB

YOGYAKARTA,KOMPAS.com — Sejumlah wartawan yang hendak meliput sumber air bawah tanah Bribin di Kecamatan Semanu, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, akhirnya mengurungkan niat untuk mengabadikan sungai bawah tanah dengan debit air 750 liter per detik itu.

Sebab, petugas Satuan Kerja Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak yang bertugas menjaga tempat tersebut meminta sejumlah uang. Untuk turun ke sungai bawah tanah dengan kedalaman 104 meter itu, wartawan diminta membayar Rp 300.000.  

Petugas setempat dengan inisial A beralasan, uang tersebut digunakan untuk biaya pengganti solar pengoperasian lift yang digunakan untuk turun ke dalam sungai bawah tanah.

"Kita sama-sama tahu, lah. Ini sudah prosedur," ucapnya, Minggu (11/9/2011), di Gunung Kidul. Awalnya, A bersama dua rekannya meminta biaya Rp 300.000. Namun, selang beberapa menit, mereka menurunkan biaya menjadi Rp 250.000 sebelum akhirnya turun lagi menjadi Rp 200.000 karena para wartawan merasa keberatan dengan tawaran mereka.  

Sungai bawah tanah Bribin merupakan proyek penyediaan air bersih hasil kerja sama antara Kementerian Pekerjaan Umum dan Pemerintah Jerman melalui Universitas Karlsruhe serta didukung beberapa perguruan tinggi, seperti UGM, UNS, UII, dan ITB.

Dengan sistem rekayasa, air sungai bawah tanah dialirkan ke atas setelah ditampung di sebuah bendungan bawah tanah. Pengaliran memanfaatkan sistem tekanan debit air sungai bawah tanah yang ditampung dalam bendungan.  

Hingga saat ini, pengoperasian sumur ditangani Satuan Kerja Balai Besar Sungai Serayu Opak. Meski demikian, proyek ini belum bisa beroperasi optimal. Dari lima pompa yang ada, hanya dua pompa yang beroperasi.



EditorRobert Adhi Ksp

Terkini Lainnya


Close Ads X